Wednesday, 10 May 2017

Jangan Lupa Bahagia



Pernah denger engga, kalimat yang saya tuliskan dalam judul postingan ini?

Mungkin malah bukan pernah lagi, tapi sering. Ya kan?

Terdengar simpel dan nyaris seperti basa-basi. Semacam "Titi DJ ya," atau "I love you". Emm, sepertinya saya salah ambil contoh.

Tapi sebenernya makna kalimat ini dalem loh. Coba kita telisik satu-persatu kata penyusunnya.

Sumpah Aku Ini Blogger

Berawal dari packing kilat saya ketika akan berangkat ke Makassar 2 minggu lalu. Ceritanya saya ke Makassar itu sebagai pengalaman pertama dalam merintis karir sebagai travel agent. Jadi, monggo kalo ada yang pengen di-travel agent-in #istilahapahhinihh. Eh, jadi tadi mau ngomong apa siy?

Oh iya, tentang packing kilat. Karena kemaren-kemarennya engga sempat packing (saya bisa bilang karena kelelahan belajar tapi semua bakal tahu itu pencitraan), jadilah saya agak sembarangan nyomot-nyomot baju buat dimasukin ke tas. Ternyata ada 1 kaos yang engga pernah saya pake yang masuk ke dalam tas. Waktu di Makassar, itu kaos saya pake dunk, masa iya udah dibawa engga dipake. Tapi saya jadi malu sendiri baca tulisan yang ada disana.


SUMPAH AKU INI LOGGER

Sunday, 11 December 2016

Kembali Menya(m)pa(h)

Assalamu alaikum...

Tetiba keinget kalo setahun terakhir, ini blog udah engga pernah lagi ditambah kontennya. Huhuhu, jadi malu. Kemarin-kemarin memang sempat give up buat nge-blog karena keypad notebook saya rusak. Udah diniatin beli keyboard portabel, tapi nyatanya tetep engga membangkitkan semangat buat nulis lagi. Lagian ribet banget jadinya, ngetik pake keyboard tambahan gitu. Mau nge-blog di kantor juga engga mungkin karena web-nya di-block. Hihi... Tapi memang sudah seharusnya demikian siy. Kita ngantor kan buat kerja ya, jadi kudu profesional. Eh, tapi kadang nge-blog itu bisa memberi pencerahan pada otak yang lagi jenuh loh! #alesan. Udah ah, kalo diterusin, ntar saya kena semprit.

Sekarang ceritanya saya ngetik pake notebook baru. Kado dari Mr. Banker. Hihi... Di ultah saya Juni kemarin, pak suamik memang nanya, mau kado apa. Saya spontan jawab, "Notebook aja, tapi ntar-ntar aja beliinnya, kalo saya lolos beasiswa". Waktu itu saya lupa kasih alternatif kado kalo ternyata saya engga lolos. Alhamdulillahnya, saya lolos. Jadi dapet notebook deh. Rejeki istri sholehah #kibasjilbab.

Friday, 2 October 2015

Solusi Transportasi Jakarta : Go-Jek, Uber, dan Grab

Saya bukan tipe orang yang pengen hidup di Jakarta sampai saya tua, seperti yang dibilang oleh Seno Gumira Ajidarma.
Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Tapi membaca beberapa paragraf di bab awal novel terbaru dari Ika Natassa yang berjudul Critical Eleven memberi saya pandangan lain yang lebih menyemangati tentang hidup di Jakarta.

Ale (tokoh cowo di buku ini) bukan pembenci Jakarta. Suka malahan. Alasannya...
"Karena di Jakarta, semua orang berada in the state of trying. Trying to get home, trying to get to work, trying to make money, trying to find a better sale, trying to stay, trying to leave, trying to  work things out. Karena itu, buatku, Jakarta itu a labyrinth of discontent. Dan semua orang, termasuk aku dan kamu, setiap hari berusaha untuk keluar dari labirin itu. The funny thing is, ketika kita hampir berhasil menemukan pintu keluar labirin ini tapi malah ketemu hambatan lagi, pulling us back into the labyrinth, kita justru senang karena nggak perlu tiba di titik nyaman. It's the hustle and bustle of this city that we live for. Comfort zone is boring, right?"