Sunday, 11 December 2016

Kembali Menya(m)pa(h)

Assalamu alaikum...

Tetiba keinget kalo setahun terakhir, ini blog udah engga pernah lagi ditambah kontennya. Huhuhu, jadi malu. Kemarin-kemarin memang sempat give up buat nge-blog karena keypad notebook saya rusak. Udah diniatin beli keyboard portabel, tapi nyatanya tetep engga membangkitkan semangat buat nulis lagi. Lagian ribet banget jadinya, ngetik pake keyboard tambahan gitu. Mau nge-blog di kantor juga engga mungkin karena web-nya di-block. Hihi... Tapi memang sudah seharusnya demikian siy. Kita ngantor kan buat kerja ya, jadi kudu profesional. Eh, tapi kadang nge-blog itu bisa memberi pencerahan pada otak yang lagi jenuh loh! #alesan. Udah ah, kalo diterusin, ntar saya kena semprit.

Sekarang ceritanya saya ngetik pake notebook baru. Kado dari Mr. Banker. Hihi... Di ultah saya Juni kemarin, pak suamik memang nanya, mau kado apa. Saya spontan jawab, "Notebook aja, tapi ntar-ntar aja beliinnya, kalo saya lolos beasiswa". Waktu itu saya lupa kasih alternatif kado kalo ternyata saya engga lolos. Alhamdulillahnya, saya lolos. Jadi dapet notebook deh. Rejeki istri sholehah #kibasjilbab.

Friday, 2 October 2015

Solusi Transportasi Jakarta : Go-Jek, Uber, dan Grab

Saya bukan tipe orang yang pengen hidup di Jakarta sampai saya tua, seperti yang dibilang oleh Seno Gumira Ajidarma.
Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Tapi membaca beberapa paragraf di bab awal novel terbaru dari Ika Natassa yang berjudul Critical Eleven memberi saya pandangan lain yang lebih menyemangati tentang hidup di Jakarta.

Ale (tokoh cowo di buku ini) bukan pembenci Jakarta. Suka malahan. Alasannya...
"Karena di Jakarta, semua orang berada in the state of trying. Trying to get home, trying to get to work, trying to make money, trying to find a better sale, trying to stay, trying to leave, trying to  work things out. Karena itu, buatku, Jakarta itu a labyrinth of discontent. Dan semua orang, termasuk aku dan kamu, setiap hari berusaha untuk keluar dari labirin itu. The funny thing is, ketika kita hampir berhasil menemukan pintu keluar labirin ini tapi malah ketemu hambatan lagi, pulling us back into the labyrinth, kita justru senang karena nggak perlu tiba di titik nyaman. It's the hustle and bustle of this city that we live for. Comfort zone is boring, right?"

Tuesday, 11 August 2015

Sekeping Cerita Agustus

Kalo liat judul postingan kali ini, semacam ada hawa-hawa romantis melankolis, yak, padahal siy isinya biasa aja. Engga romantis melankolis. En pastinya engga penting juga. Muahaha, kalo yang terakhir mah emang udah biasa yak :p

Baru aja bulan kemarin saya nulis cerita tentang perpisahan ama temen kantor. Eh lhadalah, beberapa waktu kemudian, tepatnya tanggal 10 Juli keluar pengumuman mutasi lagi di kantor. Waktu itu pengumuman keluar di web kepegawaian, saya, Ibu Boss, dan temen-temen satu bidang langsung heboh melototin PC. Ivna yang udah mau berangkat mudik ampe mengerem langkahnya. Niat hati mau sekrol ke bawah dengan khusyuk buat ngeliat pelan-pelan siapa aja yang terkena dampak mutasi. Apa mau dikata, karena angka pegawai yang mutasi nyaris mencapai angka 1000, terpaksa saya ambil jalur cepat. Ctrl-F. Demi Ivna yang udah mau capcus, saya nyari namanya dia dulu. Ketemu! Trus Ratna. Ketemu juga! Pas nyari nama saya, kok engga ada ya... #bingung

Tuesday, 7 July 2015

Ketika Harus Berpisah

Ada yang namanya musim duren, musim hujan, ato musim poto jadul dijadiin meme. Tapi yang sedang melanda kantorku sebulan terakhir ini adalah musim mutasi. Saat dimana aroma sedih dan bahagia bercampur di udara. Ada yang senang karena pindah ke kampung halaman. Ada yang sedih karena berpisah dengan rekan sekerjanya yang kompak. Ada yang senang campur sedih karena promosi jabatan tapi ke suatu daerah jauh.

Saya masih ingat ketika rekan 1 seksi saya, sebut saja Mas Anto membaca pengumuman promosi dimana namanya termasuk yang tercantum dalam daftar tersebut. Mestinya dia seneng, namanya juga promosi. Tapi melihat raut wajahnya yang langsung berubah dan pastinya bukan berubah jadi ceria, sepertinya ada kesedihan yang turut serta. Adalah karena untuk selanjutnya dia kudu mengabdi di sebuah daerah di wilayah timur Indonesia, dan untuk beberapa alasan istri dan anaknya tidak diajak ikut serta untuk tinggal disana.