Wednesday, 29 August 2012

Tragedi Eskalator

Udah lumayan sering aq melihat atau mendengar berita tentang anak kecil yang terjepit eskalator. Tapi baru kali ini aq melihatnya langsung. Kejadiannya beberapa jam lalu, tepatnya sekitar jam 8 malam tadi. Aq, Ratna, en Ivna baru selesai makan malam di Rice Bowl Atrium Senen. Rencana kami mau lanjut beli J.Cool di J.Co. Sebelumnya mampir ke Century dulu cos Ivna mau beli beberapa vitamin gitu. Pas di Century, kami denger suara-suara keras dari arah eskalator yang persis berada di depan Century, yaitu eskalator yang membawa pengunjung turun dari lantai 1 ke lantai dasar. Kayak suara beberapa orang teriak-teriak dan nangis bareng. Otomatis kami berlarian ke arah sumber suara. Engga cuma kami bertiga, tapi juga puluhan pengunjung lain yang pada kepo. Penasaran atas peristiwa apa yang sedang terjadi.

Pemandangan yang kami lihat cukup bikin miris. Seorang anak cowok berusia 2 tahunan nangis bareng bapak-ibunya. Rupanya salah satu kaki si anak terjepit eskalator. Aq juga pengen ikut nangis jadinya. Saat itu eskalator sudah dalam kondisi mati. Rupanya sudah ada seseorang yang langsung sigap untuk menekan tombol emergency stop pada eskalator begitu kehebohan mulai terjadi. Masalah yang muncul adalah membebaskan kaki si anak yang masih terjepit. Yang bikin suasana tambah heboh adalah bapak si anak yang nangisnya lebih keras dari tangisan si anak. Sampai-sampai kami yang berada di lokasi bertanya-tanya, yang kejepit itu anak atau bapaknya siy, atau malah dua-duanya? Si ibu yang posisinya sudah berada di lantai dasar juga nangis heboh, walo juaranya tetep suara tangisan si bapak. Mungkin merasa bersalah karena kurang memperhatikan si anak saat menuruni eskalator. Entahlah...


Yang jelas tangisan kedua orang tua si anak itu sepertinya malah membuat si anak bertambah panik, ditandai dengan suara tangisannya yang makin keras. Yang aneh, selain nangis, si bapak juga ngamuk-ngamuk, pake acara nendang-nendang besi yang ada di pinggir eskalator. Hmm, mungkin selain untuk melampiaskan kekalutannya, hal itu juga dilakukan dalam upaya membebaskan kaki si anak. Sayangnya menendang-nendang pinggiran eskalator, ditambah mengomel kepada para petugas yang mungkin menurutnya kurang cekatan, tidak bisa menyelesaikan masalah. Yang ada malah memperkeruh suasana.

Menurut pengamatan kami, para petugas yang berusaha membebaskan si anak cukup cekatan dalam melakukan pekerjaannya. Mereka membongkar pinggiran eskalator kemudian entah bagaimana caranya, berhasil menolong si anak terlepas dari jepitan eskalator tanpa luka berarti. Semuanya dilakukan dalam waktu kurang dari 10 menit. Dari posisi kami saat mengamati proses evakuasi, kondisi si anak tidak terlihat jelas. Hanya saja, karena dia lumayan tenang saat proses penyelamatan berlangsung, saya menyimpulkan bahwa dia nyaris tidak terluka. Tangisannya yang dari tadi terus terdengar saja langsung terhenti begitu kedua orang tuanya stop meraung-raung :) Mudah-mudahan saja kedua orang tuanya tadi langsung membawa si anak ke RS terdekat, untuk memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.

Selama proses evakuasi tadi, kami berdiri di dekat seorang ibu dan anak perempuannya yang berusia sekitar 5 tahun. Demi melihat kecelakaan tadi, si ibu bolak-balik mengingatkan putrinya bahwa apa yang selama ini selalu ia tekankan kepada putrinya, yaitu agar selalu berhati-hati saat berada di eskalator adalah benar adanya. Apalagi si putri sudah melihat dengan mata kepala sendiri apa yang akan terjadi bila ia tidak menuruti kata-kata ibunya. Aq hanya tersenyum menyimak dialog satu arah tersebut.

Demi keamanan anak selama berada di eskalator, meminta mereka untuk selalu berhati-hati itu tidak cukup. Yang benar-benar harus berhati-hati adalah orang tuanya atau orang dewasa lain yang sedang bersama si anak. Orang tua tidak boleh lengah sedikit saja dalam mengawasi si anak. Sebelum menaiki eskalator, orang tua harus benar-benar memastikan tidak ada tali sepatu yang lepas, ujung sepatu atau ujung celana/baju yang longgar yang dikhawatirkan bisa tersangkut di eskalator. Hendaknya orang tua memperhatikan letak kaki dan tangan anak saat berada di eskalator. Sebisa mungkin orang tua memegang tangan anak, memastikan jari-jarinya tidak menyentuh pegangan eskalator, sehingga menghindarkan anak dari resiko jari tangan terjepit. Selama berada di eskalator, mintalah anak untuk menghadap ke depan dan tidak banyak bergerak. Bila anak masih sangat kecil, untuk lebih amannya sebaiknya digendong setiap naik atau turun eskalator. Dengan pengawasan cermat dari orang tua, resiko kecelakaan yang mengancam anak-anak di eskalator bisa dihindarkan.

4 comments:

  1. iya serem banget td mlm,bikin miris,,pelajaran berharga buat ortu baru seperti saia :)

    ReplyDelete
  2. Dan juga buat calon ortu seperti saya :)

    ReplyDelete
  3. menurutku sih kalo masih toddler gtu lebih aman kalo digendong tiap naik eskalator...

    ReplyDelete
  4. Iya fika, lebih aman begitu, ya. Makasiy masukannya. Aq masukkan ke postingan di atas ya...

    ReplyDelete