Saturday, 1 September 2012

Tanggal Tua? So Yesterday Banget Deh!

Sekarang tanggal 1, jadwal gajian kami. Tapi karena tanggal 1 bulan ini bertepatan dengan hari Sabtu yang adalah hari libur di sebagian besar instansi, termasuk instansi kami, dan besok adalah hari Minggu yang juga masih hari libur, jadi gajiannya mundur. Nunggu hari Senin, yaitu masih 2 hari lagi. Kalo di instansi saya sebelumnya, gajian dijadwalkan setiap tanggal 25. Kalo ternyata tanggal 25 itu jatuh di hari libur, maka gaji kami malah akan dimajukan pembayarannya. Beda instansi memang jelas beda kebijakan.

Terkait kemunduran tanggal gajian ini, beberapa teman menulis status bernada sedikit mengeluh di bbm-nya. Ada yang menulis "Tanggal muda suasana tanggal tua", ada yang menulis "Masih ada tanggal 32 dan 33, belum tanggal 1",... Saya sendiri melihat status-status bernada desperate gitu, walaupun sekaligus terkesan bercanda, jadi pengen sedikit menyindir. Kemudian saya menulis status "Belum gajian kok pada kayak orang susah, siy? Emang gajinya dikemanain aja?" Engga lama penulis status pertama (yang adalah temen seinstansi tapi beda kantor dan suaminya jelas bukan pengangguran) bbm, yang kemudian berlanjut dengan saya membalas bbm-nya. Chatting via bbm kita kurang lebih seperti ini :


Dia : "Gajinya buat beli susu formula ma pampers, bayar pembantu, dll. Engga dikemana-manain"
Saya : "Hehehe, iya deh, tapi masih banyak loh, yang gajinya di bawah gaji pegawai instansi kita dan mereka engga mengeluh"
Dia : "Belum ngerasain siy" (yang ini jelas masih terkait dengan saya'susu formula dan pembantu' thing)
Saya : "Mudah-mudahan engga bakal ngerasain kayak gitu" (maksud saya, kalaupun pada saatnya nanti saya akan direpotkan dengan 'susu formula dan pembantu' thing itu, saya engga pengen berada dalam kondisi keuangan yang membuat saya pengen mengeluh seakan tidak bersyukur atas gaji saya)
Dia : "Kualat lho"
Saya : "Aq liat sendiri, temen-temenku yang gajinya jauh di bawah kita dan istrinya engga kerja, engga segitunya"
Dia : "Mereka engga punya bb, makanya engga bisa ngeluh di bbm :D "
Saya : "Kalo emang mereka pengen ngeluh juga engga harus punya bb, kok. Aq pikir masalahnya ada di pengalokasian uang kita"
Dia : "Walah malah ceramah"
Saya : "Hahaha...engga, cuma kok kayaknya engga pantes aja pegawai instansi kita yang gajinya di atas gaji rata-rata mengeluh :-)"
Dia : "Yah kan ada pengeluaran yang harus dikeluarkan tanggal muda buk. Masalah gaji asisten dan susu formula engga bisa ditunda :D "
Saya : ":-)"

Hmm, saya memang belum pernah mengalokasikan gaji saya untuk membeli susu formula, pampers, dan menggaji asisten rumah tangga seperti teman saya itu. Bisa jadi dia sakit hati melihat status bbm saya itu dan mungkin akan lebih sakit hati juga melihat saya menulis postingan ini. I'm sorry but I can't bear the thought that I need to write this, right here, right now :-)

Seperti telah saya tuliskan di atas, gaji yang saya dapatkan Alhamdulillah lumayan. Bahkan tadi saya bilang di atas gaji rata-rata, walau temen-temen saya engga sedikit yang gajinya jauh di atas saya. Saya pikir dengan gaji yang saya dapatkan, sudah sepatutnya saya bersyukur, bukannya mengeluh. Menurut saya, temen-temen instansi (tentunya dengan grade yang sama atau engga beda jauh) yang saya tahu pasti gajinya engga jauh beda dengan saya sepatutnya juga demikian.

Yee...masalahnya tiap orang kan punya kebutuhan berbeda, otomatis peruntukan gajinya juga beda, dunk! Ada yang gajinya buat nyicil rumah, biaya kuliah adiknya, biaya berobat orang tuanya, membeli kebutuhan anaknya, dll, dsb. Kamu engga bisa dunk, menyamakan semua orang dengan diri kamu sendiri! Emangnya kamu, gaji cuma buat seneng-seneng, cos biaya hidup ditanggung suami!

Ups, ada yang protes, ya? Untuk yang protes, pertama perlu saya clear-kan : walau biaya hidup saya (yang primer aja siy) memang ditanggung Mr. Banker, tapi sebagian besar gaji saya diperuntukkan untuk investasi, termasuk di dalamnya adalah membayar cicilan rumah kami di Malang. Karena cicilan rumah kami lebih besar dari biaya hidup saya, bukannya saya mendapat transferan dari Mr. Banker, tapi malah saya yang transfer uang ke dia, yaitu sebesar selisih antara biaya hidup saya dan cicilan rumah kami. Ntar dia yang nyetorin ke bank. Jadi, siapa tadi yang bilang gaji saya cuma buat seneng-seneng?

Jujur, pastinya memang ada sebagian dari gaji saya yang dialokasikan untuk bersenang-senang. Buat nge-spa, shopping, makan enak, liburan beberapa kali dalam setahun. Tentunya dengan porsi wajar. Menikmati hidup, lah. Dan menikmati gaji yang sudah kita dapatkan dengan bekerja pintar. Udah sering, kan, denger quote "work hard, play hard"? Ada yang lebih oke, loh :"work smart, play hard". Terserah siy, mau pilih yang mana. Saya jelas pilih yang terakhir.

Saya masih ingat, beberapa bulan lalu saya mengajak seorang teman kantor buat nge-spa di saat kalender menunjukkan tanggal yang terletak di sepertiga bulan terakhir (istilah Ramadhan banget). Teman saya itu masih single dan setahu saya tidak berada dalam kondisi kesulitan keuangan seperti terjebak hutang misalnya. Jadi apa jawabannya waktu saya mengajaknya ke salon langganan sepulang kantor? "Waduh, bulan depan aja, isti. Tanggal tua, niy!" Karena dia adalah senior saya di kantor, saya malas berdebat dengannya tentang nasib tanggal tuanya itu. Saya memutuskan nge-spa sendirian.

Kadang-kadang saya bingung dengan orang-orang yang mengaku kehabisan uang pada hari-hari yang mereka sebut tanggal tua. Memangnya mereka engga pernah denger yang namanya perencanaan keuangan, ya?

Saya pernah membaca buku berjudul "Menjadi Cantik, Gaya dan Tetap Kaya" yang ditulis oleh Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom, CFP. Beliau adalah seorang perencana keuangan independen sekaligus pembicara dan penulis yang menjabat sebagai Director di ZAP Finance Consulting. Ibu muda yang cantik dengan jilbabnya ini mengantongi sertifikat CFP (Certified Financial Planner) yaitu sertifikasi perencana keuangan profesional yang diakui dan paling terkenal di dunia. CFP diberikan oleh Dewan Standar Perencana Keuangan di Indonesia yang berada di bawah lisensi dari Dewan Standar Perencanaan Keuangan Dunia di Denver, Amerika Serikat.

pedoman buat smart women neh ;)

Buku di atas membahas tentang bagaimana mengelola dan merencanakan keuangan tanpa mengorbankan gaya hidup. Walau judulnya mengusung kata "cantik" yang menyiratkan bahwa segmen pembaca yang dibidik adalah para wanita, menurut saya buku ini juga penting untuk dibaca oleh pria. Karena perencanaan keuangan yang dibahas dalam buku ini engga cuma diperuntukkan khusus kepada wanita. Engga sekedar hitung-hitungan anggaran yang dibeberkan dalam buku ini, namun juga penjelasan tentang kartu kredit, berbagai produk asuransi serta bermacam elemen investasi mulai dari tabungan sampai dengan saham dan reksadana. Semuanya dijelaskan dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Bahkan ada bab yang membuat saya senyum-senyum sendiri saat membacanya, yaitu Bab 5 tentang Tetap Cantik dan Gaya Tanpa Rasa Bersalah yang di dalamnya terdapat Kuis : Apa Gaya Belanja Saya?.

Prita H. Ghozie mengajak kita untuk membuat prioritas dalam anggaran dengan metode ZAPFIN, yaitu setiap pendapatan yang diterima sebaiknya digunakan dengan pembagian berikut ini :
1. Zakat : memberikan kembali kepada komunitas.
2. Assurance : melindungi keluarga untuk hal tak terduga.
3. Present consumption : menyisihkan dana untuk kebutuhan hidup bulan ini.
4. Future spending : menabung untuk rencana-rencana cantik di beberapa tahun mendatang.
5. Investment : berinvestasi untuk masa depan pensiun yang cantik, gaya, dan tetap kaya.

Sebagai patokan umum, pengalokasian dananya adalah seperti ini :
~ 2,5% untuk zakat,
~ Minimal 5% untuk membangun dana darurat dan 5% untuk membayar premi asuransi,
~ Alokasi untuk konsumsi bulan ini (termasuk pengeluaran gaya hidup) sebaiknya tidak lebih dari 60%,
~ Paling tidak 15% dari penghasilan dapat ditujukan untuk tabungan dan investasi,
~ Jika masih punya cicilan utang, maka porsinya jangan lebih dari 30%. Jika ada, maka yang dikorbankan adalah biaya hidup bulanan.

Masih bingung? Mending baca bukunya langsung, kali, ya? Penerbitnya PT. Elex Media Komputindo. Cari aja bukunya di Gramedia. Btw, saya jadi kayak marketing-nya Gramedia, engga siy? Padahal engga dibayar. Hihihi... Cuma pengen berbagi ilmu yang bermanfaat kok. Kalo udah paham ilmunya, trus ada yang ngajakin nongkrong di sepertiga bulan terakhir, kenapa engga? Istilah tanggal tua...so yesterday banget, deh!

8 comments:

  1. nyambungin paragraf 3 >>mudah-mudahan juga juniornya kelak nggak ngerasain sufor juga ya bu, biar dapet yang paling sempurna aja, ASI ;)

    ReplyDelete
  2. Benar sekali ibu fika...pengen ngikutin jejakmu...aq inget baca perjuanganmu di awal2 dulu biar bisa kasih ASI eksklusif (eh, bener kamu kan, ya? Ato temennya mas naufal yang laen ya? :p). Lagipula, di samping ASI memang paling oke, juga engga membebani anggaran rumah tangga ;)

    ReplyDelete
  3. SHINTA

    WAA KEREN MBA, LANGSUNG DFEH NTAR NYARI DI GRAMED
    SERING BERMASALAH MBA SAMA TANGGAL TUA
    KRN SALAH SATU DARI HOBI YG AK TEKUNI BENER2 BIKIN KANTONG MLOMPONG :(

    ReplyDelete
  4. Hihihi, iya mba, segera aja cari di gramed...hmm, niy hobi yg mana ya? Yg berhubungan dg manga itu-kah? :D

    ReplyDelete
  5. kunjungan perdana nih....
    aku follow blogmu ya...
    ditungu follbacknya

    salam kenal kakak...

    www.ajavasisme.com

    ReplyDelete
  6. Makasiy udah berkunjung...salam kenal juga ya :)

    ReplyDelete
  7. Hehehe...berarti ntar klo saatnya tiba, aq berguru yaaa ;)

    ReplyDelete