Tuesday, 5 February 2013

Launching Buku Terbaru Fira Basuki : "Cerita Di Balik Noda"

Waktu dapat undangan peluncuran buku terbaru Fira Basuki yang berjudul "Cerita Di Balik Noda", aku langsung galau pengen dateng.

cover buku Cerita Di Balik Noda

Dari jaman kuliah, aku emang udah ngefans banget ama Fira. Jadi jelas pengen banget buat dateng, tapi ragu-ragu karena acaranya pas hari kerja, yaitu Kamis, 31 Januari 2012. Dalam kegalauanku, aku nyampah di twitter. Eh, belum 1 menit aku nge-tweet, udah di-mention ama Pemimpin Redaksi Cosmopolitan Indonesia yang kemarin jadi salah satu juri pada Pemilihan Putri Indonesia 2013 tersebut.

Di-mention ama Mba Fira ;)

Jadi makin galau deh. Tapi demi ketemu idola, aku menguatkan diri buat minta ijin ke atasanku. Alasannya... hmm, kasih tau engga ya? Yah, intinya Alhamdulillah dikasih ijin. Lagian tanggungan kerjaanku pas udah beres, jadi engga ada alasan juga buat ngelarang aku pergi :p Walo konfirmasi kehadiranku ke Mba Mira selaku koordinator event untuk acara ini lumayan telat, Alhamdulillah masih bisa dapet seat.

Oya, kenapa aku bisa nge-fans banget ama Fira Basuki? Sejak membaca novel pertamanya "Jendela-jendela" yang diterbitkan pada tahun 2001, aku udah jatuh cinta ama gaya penulisannya yang mudah dicerna.

Aku juga mengagumi sosok Mba Fira yang selain merupakan figur wanita yang tangguh dan mandiri, menurutku Mba Fira juga memiliki kehidupan yang seimbang kedua sisinya. Ada sisi glamour, ada sisi sederhana. Yang bikin aku makin kagum, dalam kesibukannya, Mba Fira juga selalu berusaha untuk tidak meninggalkan sholat. Aku masih inget banget salah satu kisah dalam blog-nya. Pada saat itu Mba Fira sedang rapat di kantornya hingga kemudian Mba Fira tersadar bahwa waktu Ashar sudah mau habis.  Ia mengatakan kepada peserta rapat yang lain bahwa ia belum sholat. Celetukan teman-temannya yang mengatakan udah mau Maghrib lah, sholatnya dijadiin satu aja ama Maghrib lah (yang jelas engga mungkin buat diturutin) tidak dihiraukan olehnya. Mba Fira keukeuh meminta ijin untuk sholat dan langsung berlalu untuk menunaikan kewajiban ibadahnya.


Acara peluncuran buku ke-27 karya Fira Basuki itu dihelat oleh Prodigy Agency dan diadakan di Kembang Goela Restaurant, Plaza Sentral, Jalan Jend. Sudirman Kav. 47-48. Memasuki restoran yang menyuguhkan atmosfer tempo doeloe yang hangat tersebut, para undangan langsung dipersilakan untuk meninggalkan cap tangan dan menuliskan pesan di sebuah banner. Hmm, engga heran siy, judul bukunya memang mengusung kata "noda". Jadi para undangan juga diharapkan untuk tidak takut dengan noda. Karena seperti slogan Rinso yang logonya tercetak pada signing banner, "berani kotor itu baik".

"Noda" penyemangat untuk Mba Fira


Acara ini memang disponsori oleh Unilever. Jadi engga heran kalo abis berkotor-kotor ria dengan cat air warna-warni itu, undangan langsung diarahkan untuk mencuci tangan dengan "Lifebuoy handwash". Di deket situ, aku melihat segerombolan anak kecil yang sedang dilatih untuk mengucapkan "Selamat datang, Kakak" kepada para pengunjung yang datang. Kok masih pada latihan? Hmm, ternyata memang belum banyak undangan yang hadir. Bengong di deket pintu, aku diajak kenalan ama seorang mba cantik berjilbab. Namanya Mba Haya, ternyata dia juga dari Kumpulan Emak Blogger (KEB) seperti aku. Bedanya... aku newbie, Mba Haya udah senior :D

Sambil menunggu acara dimulai, para undangan dipersilakan mencicipi makanan ringan yang telah disediakan. Sambil ngemil, aku ngobrol ama temen-temen dari KEB dan Kampung Fiksi. Sebagai newbie di KEB, aku dikenalin ama para senior di KEB. Sempat foto-fotoan juga ama para emak gaul yang cantik-cantik itu. Bikin minder siy, secara sebagian besar dari mereka udah jadi penulis beneran. Aku apa kabar ya? :p Oya, foto yang aku pajang di bawah ini nyomot dari blog-nya Mba Winda, waktu itu yang motoin adalah adiknya Mba Winda yang ganteng ;)

Emak-emak blogger narsis bareng

Oya, waktu ngemil itu, ada seleb yang lewat di deketku. Ninit Yunita yang nulis Test Pack (film-nya pernah aku review disini) dan emang sohiban ama Fira Basuki. Pengen minta tanda tangan en foto bareng, tapi malu ama sekitar. Cos walopun yang lain juga tau kalo itu adalah Mba Ninit, mereka engga ada yang heboh pengen foto. Jadi aku cuman bisa pamer cerita ke Fiki lewat bbm :p

Memasuki aula tempat acara, para undangan mengisi daftar hadir. Selain nama, disana kita juga wajib menuliskan media apa yang kita wakili. Selain itu, kita juga dapet map plastik berjudulkan siaran pers. Baru nyadar, aku hadir disini selaku pers, bukan sebagai penggemar Fira Basuki :p Untuk penggemar, ada acara terpisah yaitu Meet n Greet di Gramedia Central Park hari Sabtu kemarin. Parahnya, karena telat nyimak tweets-nya Mba Fira, aku ketinggalan acara itu :'(

Acara dimulai pada pukul 10.15. Setelah pembacaan safety briefing, acara dibuka dengan pembacaan cerita oleh Sitok Srengenge, seorang seniman teater. Beliau membacakan 1 dari 42 cerita yang terangkum dalam buku "Cerita Di Balik Noda", yaitu sebuah cerita yang berjudul "Tak Jadi". Gayanya dalam membacakan cerita membawa para undangan serta wartawan yang hadir ikut larut dalam kisah tentang sepasang suami istri yang berada pada ambang perpisahan.

pembacaan cerita oleh Sitok Srengenge

Selanjutnya Alvin Adam menggantikan Sitok berdiri di panggung, memanggil Fira Basuki dan Sani B. Hermawan (psikolog) untuk berbincang-bincang tentang isi buku dan juga tentang psikologi anak-anak. Lah, kenapa musti membahas psikologi anak-anak tho? Buku "Cerita Di Balik Noda" ini memang didedikasikan bagi seluruh ibu dan anak Indonesia.

Buku ini berisi kumpulan kisah 38 orang ibu yang mengikuti lomba menulis "Cerita Di Balik Noda" yang diadakan oleh Rinso lewat facebook beberapa bulan yang lalu, yang mana 10 kisah terbaiknya diangkat ke layar kaca. Disini, Fira menuliskan ulang dengan gaya bahasanya sendiri dan menambahkan 4 kisah yang merupakan cerita hatinya yaitu kisah yang berjudul Bos Galak, Foto, Sarung Ayah, dan Pohon Kenangan. Mengapa musti dituliskan ulang? Menurut Fira, para ibu yang mengirimkan tulisannya dalam perlombaan kemarin suka hilang fokus. Maunya menceritakan soal anak, tapi ujung-ujungnya malah membanggakan diri sendiri. Sehingga disini Fira mencari esensi dari kisah yang dituliskan oleh masing-masing ibu tersebut, kemudian mengembangkannya sehingga menjadi kisah yang lebih menarik untuk dibaca.

Mengusung tagline "42 kisah inspirasi jiwa", buku "Cerita Di Balik Noda" setebal 248 halaman ini sarat akan kisah moral. Di dalamnya mengisahkan hubungan antara anak dengan orang tua dan juga siapa saja dalam keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Sudut pandang yang diambil juga bervariasi. Mulai dari sudut pandang sebagai anak, sebagai kakak, maupun  sudut pandang sebagai suami. Bahkan dalam kisah pertama yang berjudul "Bos Galak", sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang sebagai seorang karyawan.

Noda yang menjadi benang merah antar cerita disini bukan cuma memiliki arti yang sempit yaitu noda sebagai sesuatu hal yang kotor, seperti noda lumpur misalnya. Noda yang dimaksud dalam buku ini adalah noda dalam arti yang luas. Keburukan dalam hati kita, prasangka buruk terhadap orang lain merupakan noda dalam kehidupan.

Di dalam buku ini, ada 1 kisah yang terinspirasi oleh Syaza Calibria Galang, anak pertama Fira yang menyimpan sarung milik Almarhum Hafez Agung Baskoro, suami Fira yang meninggal bulan Maret 2012 lalu, saat Fira masih mengandung anak keduanya. Judul kisahnya "Sarung Ayah". Tatkala bercerita tentang kesukaan almarhum suaminya bermain dengan sarung itu, Fira sempat menangis haru. Seluruh undangan yang hadir, tak terkecuali aku sendiri juga ikut terharu. Aku sebagai salah satu follower-nya @FiraBasuki, ngikutin banget tweets-nya saat kepergian suaminya.

perbincangan tentang "Sarung Ayah"


Buku "Cerita Di Balik Noda" mengajak pembacanya untuk bisa bercermin dan belajar. Selain itu, buku ini mengingatkan kembali tentang kedekatan kita dengan sekitar, baik dengan lingkungan, baik alam, maupun lingkungan sosial kita. Karena kesibukan yang membelenggu, tanpa kita sadari, waktu bergulir tanpa terasa. Mungkin akhir-akhir ini kita menganggap bahwa saat kita menyapa teman lewat facebook, hal itu sudah menunjukkan perhatian kita. Bayangkan perbedaannya bila kita benar-benar mengunjungi teman kita secara nyata. Kehangatan yang tercipta tentunya jauh melebihi kehangatan semu di dunia maya. Kemudian, coba kita ingat-ingat lagi, kapan terakhir kita bermain hujan? Kapan terakhir kita main ke sawah? Atau jangan-jangan malah belum pernah? Buku ini hadir untuk berbagi, membangkitkan spirit baru, kenangan di masa lalu yang mungkin akan mendorong kita untuk mengulangnya kembali.

Selain memperbincangkan isi buku, kehadiran Sani B. Hermawan selaku psikolog memberikan pencerahan bagi para ibu. Menurut Sani, adalah sebuah mindset yang salah bila para ibu berpikir bahwa anak harus dibesarkan dalam lingkungan yang steril, bahwa noda adalah sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Anak-anak yang biasa tersentuh noda akan terlihat lebih bersemangat dibanding anak-anak yang dibiasakan untuk selalu menjauhi noda. Memberi kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya akan membangun karakter, meningkatkan kreativitas dan kepercayaan diri pada anak. Dari segi kesehatan, noda akan meningkatkan auto imun pada anak. Jadi Sani menyarankan agar para orang tua mengajak anak untuk berinteraksi dengan alam, dengan lumpur, dengan hujan. Jangan membiasakan anak berinteraksi dengan gadget saja, karena akan menghambat hubungan sosialnya dan membuat anak rentan terhadap stres.

Dalam mengajak anak bersentuhan dengan alam, orang tua perlu menjadi role model. Jadi tidak hanya menyuruh, tapi ikut terjun langsung. Berikan sensasi senang dan bahagia saat bermain dengan alam sambil pelan-pelan mengajak anak ikut serta menikmatinya. Jangan memaksa anak bila dia memang belum mau (bisa jadi si anak tipikal yang "jijikan") karena akan menimbulkan rasa trauma. Bila perlu, ajak juga teman-teman si anak supaya suasana lebih fun.

Bebaskanlah anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya, namun kebebasan yang benar adalah kebebasan yang terarah, terbimbing, dan terawasi. Ajari juga konsekuensi dari kebebasan tersebut. Contoh gampangnya, setelah puas bermain dengan noda, jangan lupa ajari anak untuk membersihkan badannya sebagai konsekuensi dari berkotor-kotor tadi.

Kembali ke buku yang penulisannya memakan waktu 3 minggu ini, buku "Cerita Di Balik Noda" layak dibaca bersama oleh ibu dan anak. Tentunya sang ibu perlu memberikan pemahaman yang lebih dalam beberapa hal yang mungkin agak sulit dicerna oleh anak-anak. Akan lebih baik lagi jika didahului dengan sang ibu membaca buku tersebut sendiri, baru kemudian menyarikannya untuk diceritakan ulang kepada si anak. Pasti akan menarik menjadikan kisah-kisah inspiratif dalam buku tersebut sebagai dongeng kepada si anak.

Dalam acara perbincangan tersebut, Alvin memberikan kesempatan kepada 2 peserta untuk berbagi pengalaman selaku ibu dalam mengajak anaknya bersentuhan dengan noda. Salah satunya adalah Mba Lia dari KEB. Kedua peserta mendapatkan masing-masing 1 box hadiah yang gede banget. Jadi penasaran ama isinya :p Oya, waktu menyerahkan hadiah itu, Fira Basuki bukannya menunggu peserta untuk berjalan ke panggung, tapi ia sendiri yang mendatangi peserta dan menyerahkan hadiahnya.

Ada juga penyerahan door prize untuk undangan yang beruntung. Door prize-nya cuma ada 2, didapatkan oleh 2 orang cewe, 1 dari Cosmopolitan, 1 dari Chic. Engga tau deh, isinya apaan *lagi-lagi penasaran*

Selanjutnya adalah acara peluncuran buku "Cerita Di Balik Noda" secara resmi. Christopher Oey, Senior Brand Manager Rinso dan seorang lagi perwakilan dari Unilever maju ke depan untuk menerima buku dari Fira Basuki. Selain itu, turut pula menerima buku dari Fira adalah Sitok Srengenge dan Sani B. Hermawan.

peluncuran secara resmi "Cerita Di Balik Noda"

Fira juga sempat memberikan tanda tangan pada buku yang dipegang oleh Wimar Witoelar, yang walopun harus dipapah, masih menyempatkan diri untuk menghadiri peluncuran buku sahabatnya. So touching.

Fira memberikan tanda tangan untuk Wimar Witoelar
 
Oya, baru inget niy. Waktu awal kita masuk ruangan (kita disini adalah aku, Mba Fitri, dan Mba Fadlun), kita langsung menduduki kursi di barisan terdepan. Selain pengen lebih dekat dengan Mba Fira yang siang itu tampil cantik bak dewi Yunani dengan gaun putih, kalung serta tiara emas, dan tak lupa stiletto-nya, kita juga ngarep bisa kefoto trus nampang di majalah Cosmopolitan. Sampe akhirnya kita nyadar kalo ternyata barisan kursi yang kita duduki berlabelkan "reserved" di sandarannya. Ternyata barisan kursi itu disediakan untuk Wimar Witoelar dkk. Hihihi, jadi malu sendiri. Engga berapa lama setelah Wimar duduk, Ninit Yunita mendatangi kursinya untuk menyapanya.

Dua sahabat Fira Basuki saling menyapa


Sebelum acara dimulai tadi, aku juga sempat memperhatikan Ninit Yunita dan Fira Basuki berpelukan, kemudian mengobrol berdua dilanjutkan berfoto bersama menggunakan hape. Aku jadi berpikir, Fira Basuki memang seorang wanita yang kuat dan tangguh. Namun kehadiran sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya memberikan kekuatan lebih bagi dirinya.

Ada 1 quote tentang persahabatan yang aku inget:
Strong friendships can help you through bad times and make the good times seem all the better...
That is so true...

Kembali ke acara launching buku. Selesai acara, para undangan dipersilakan untuk menikmati makan siang hidangan Indonesia ala peranakan. Wuah, banyak banget menu yang disajikan. Lengkap deh, mulai dari appetizer, main course, ampe dessert. Denger-denger, makanan di resto ini terbilang mahal. Satu paket makanan (3 course meal with drink) per orangnya sekitar 200ribu. Engga mau rugi, aku nyobain menunya satu persatu. Dikit-dikit aja, yang penting tau rasanya. Walopun udah dikit-dikit ngambilnya, tetep aja berasa kenyang. Untuk dessert-nya aku nyobain es parahyangan dan puding entah apa namanya. Ada menu dessert lain tapi aku kuatir bakal malu-maluin emak-emak dari KEB kalo aku maruk nyobain semuanya :p

Jam 12, aku berpamitan pada para emak dari KEB. Pas pamitan ama Mba Mira, langsung ditodong buat bayar iuran ultah KEB ke Mba Irma. Wokeee, Mba ;) Siap-siap neh, kosongkan jadwal tanggal 16 Februari cos bakal kopdar lagi ama para emak blogger di Demang Cafe, Sarinah.

Sempat ngobrol juga ama Mba Elisa yang ngajakin buat acara mini talkshow ama perwakilan dari Woman Radio FM tanggal 13 Februari. Sayangnya, karena acara talkshow-nya (lagi-lagi) jatuh pada hari kerja, dengan sangat terpaksa aku minta maaf engga bisa ikutan.

Sebelum pulang, aku menyempatkan diri untuk berfoto di depan signing banner bersama anak-anak kecil yang lucu-lucu en ginuk-ginuk yang tadi bertugas menyapa para undangan yang datang. Sekarang ucapan "Selamat datang, Kakak" dari mereka berubah menjadi "Terima kasih, Kakak"... Duh, ngegemesin banget, deh :-*

narsis bareng para penerima tamu cilik

Pulang dari acara (dan kembali ke kantor tentunya), berasa hepi banget deh. Sambil nenteng goodie bag, aku menumpang busway. Maklum, lagi jam makan siang. Kalo naik taksi kayak waktu berangkat ke tempat acara tadi, kuatir macet *alasan lebih tepatnya adalah kuatir deg-degan liat argo taksi kalo jalanan macet :p*

Oya, isi goodie bag-nya apa aja? Ini dia...

abaikan toples kue di belakangnya :p

What's in the box? Here they are...

dapet buku, cd film, kaos, vas bunga, dan Rinso ;)

Btw, waktu acara, emak-emak dari KEB sempat foto bareng Fira Basuki, tapi entah kamera siapa yang dipake. Kalo ada yang ngerasa punya fotonya, kabarin aku ya... Hehehe...

4 comments:

  1. keren ulasan pengalamannya mbak, memang acaranya keren banget ya, nyaman dan syahdu. Ramah-ramah pula.

    Cerita mbak detail banget, aku malah belom sempat nih, anakku masih sakit, apalagi mau share foto ealaah, hehe..

    mau tau hadiah yg gede itu apa? kasih tau gak yaaa? hihi..nanti aku ceritain via blog, salam kenal yaa ^_^

    ReplyDelete
  2. Waa...niy dia, Mba Lia yang share cerita trus dapet kado gede muncul...
    Salam kenal juga, Mba Lia :)
    Yuppp, sepakat banget kalo acara kemaren emang keren! Engga nyesel udah bela-belain minta ijin dari kantor :D
    Iya niy, Mba, penasaran isi kadonya apa. Ntar aku intip di blog-nya Mba Lia ya, klo udah di-posting :p
    Yang sakit itu Selma yang kemaren diajakin ke acara-kah, Mba? Duh, kasian... Moga Selma cepet sembuh ya...

    ReplyDelete
  3. Waw detil bin banget mak reportasenya. Baguss. Asik namaku disebut juga plus pake hyperlink hehee...nanti namamu aku hyperlink juga deh *balesbudi* :D. Besok2 jgn langsung melipir mak, putu2 dulu sama mc nya hehee *manas-manasin* :))

    ReplyDelete
  4. Hihihi...tengkyu, mak...ceritanya kemarin waktu baca reportasenya mak, jadi pengen buru-buru nulis. Termotivasi, gituh, plus kuatir ceritaku keburu basi, wkwk...Pas udah nulis, malah jadi cerita panjang kali lebar deh :p
    Wah, wah, makasiy banyak atas bales budinya *apasiy*
    Iya neh, napa pada poto-potoan gitu, siy, pas aku udah cabut. Untung potonya masih ama Alvin en Sani. Coba ama Fira, bisa ngiri tingkat nasional, aku. Hahaha...

    ReplyDelete