Sunday, 24 February 2013

Nonton "Mama" : Ngeri yang Berujung Galau

Pengen nulis "hwaa, udah lama engga nge-blog", tapi kok berasa de ja vu, ya? Hmm... Niy tiba-tiba hasrat menulis sudah tak tertahankan lagi. Walo mata udah mulai kriyep-kriyep, rasanya jari kok gatel banget, buat pencet-pencetin keyboard di Tab tapi bukan untuk maen Onet (oh em ji, aku bener-bener engga bisa muf on dari game ini). Jadi, meskipun jam sudah menunjukkan pukul 00:49, yuk mari nge-blog.

Satnite barusan menjadi ladies' nite out. Aku, Ratna, Ivna, plus 1 guest star yaitu sepupunya Ratna memutuskan untuk nonton "Mama" di Blitz Megaplex-GI. Beberapa hari lalu aku udah sempet baca review-nya di Femina, jadi aku tau kalo itu film horor.

Secara beberapa waktu lalu, "Hansel & Gretel 3D" aja udah sukses bikin aku teriak-teriak, jadi probabilitasku buat teriak-teriak lebih kenceng waktu nonton "Mama" adalah 97% dengan taraf signifikansi 1% sehingga taraf kepercayaannya 99% #ini apa siy

Jadi, tiap kali ada adegan yang kayanya berujung horor, aku udah melakukan antisipasi untuk meredam teriakan dengan menutup mulut pake tangan plus memicingkan mata biar pemandangan adegan horornya kliatan kecil (???), tapi cara ini ternyata tidak efektif. Lain kali kayanya aku perlu bawa sumpel mulut kayak yang biasa dipake buat ngebekep mulut orang yang lagi disandera. Itu tuh, yang kalo di tipi-tipi tangan en kakinya juga pake acara diiket gitu.

Duduk di sebelah Ivna yang ngakunya pecinta film horor juga tidak banyak membantu. Malah sebenarnya memang tidak membantu sama sekali. Kalo pas adegan serem, kita malah barengan teriaknya. Waktu aku protes kenapa dia juga teriak-teriak, katanya siy, dia emang suka film horor, tapi tetep aja ngerasa takut selama nonton film. Ooo...

Ini sedikit pengantar untuk "Mama".Seorang pria yang putus asa bernama Jeffrey (Nikolaj Coster-Waldau) membunuh istrinya kemudian membawa 2 anaknya yang unyu-unyu, yaitu Victoria en Lily ke suatu pondok di tengah hutan. Saat si pria itu mau ngebunuh anak pertamanya, tiba-tiba ada bayangan hitam mencekik lehernya. Tapi 2 anak unyu tadi berhasil bertahan hidup. Lima tahun kemudian, mereka ditemukan dalam kondisi kejiwaan yang aneh. Mereka sempat dirawat di sebuah klinik dan menarik pemilik klinik yaitu Dr. Gerland Dreyfuss (Daniel Kash) untuk melakukan observasi mendalam, terutama mengenai karakter pada gambar-gambar yang mereka buat, yang mereka sebut "Mama".

Kembarannya Jeffrey, yaitu Lucas (tentunya Nikolaj juga yang meranin), yang memang telah lama mencari kedua keponakannya tersebut memaksa untuk merawat mereka, bersama dengan pacarnya, Annabel (Jessica Chastain) yang sebenarnya bahkan belum siap untuk memiliki anak. Mereka berdua diberi fasilitas berupa rumah oleh klinik kejiwaan, karena kondisi ekonomi mereka yang dianggap kurang mumpuni untuk membesarkan kedua anak tersebut. Kejadian-kejadian aneh muncul di rumah itu. Tentunya karena kemunculan bayangan hitam yang di awal film diceritakan telah membunuh Jeffrey tadi.

Jadi, siapakah sebenarnya "Mama"? Nonton sendiri aja kali, ya...

Walopun selama menonton kami diliputi kengerian - plus keirian (wow, it's a rhyme!)...aku iri hati ngeliat cowok di sebelahku peluk-peluk ceweknya padahal tuh cewek engga teriak-teriak kayak kita. Huh, dasar cari kesempatan tuh... Lah aku, udah teriak-teriak mulu, engga ada yang pelukin #ini kenapa jadi curhat

Eh, tadi sampe mana? Oke, kengerian. Jadi niy ya, walo filmnya serem, ternyata ending-nya bikin galau. Sempet pengen nangis juga, walo ternyata engga ada air mata yang keluar. Film yang punya tagline "A Mother's Love is Forever" ini ternyata juga menyuguhkan keharuan...
Komentarku waktu nonton ending-nya, "kayaknya niy sutradaranya galau deh, bingung mau happy ending ato sad ending, jadi dua-duanya dipake". Tuh sutradara (ato produser ato penulis skenario ato siapalah yang bisa nentuin ending cerita, aku engga tau) sukses nularin kegalauannya kepada penonton.

Tapi ada beberapa hal yang masih mengganjal di hatiku dan benakku selama dan selesai nonton. Bikin tambah galau aja, deh. Kalo dijadiin film, judulnya mungkin "Galau - Part 2" ato "Galau -Extended". Kalo dijadiin lagu mungkin judulnya "(Masih Ada) Galau". Semacam pertanyaan tak terjawab. Ato mungkin ada yang bisa kasih jawaban? #jadi kepikiran ngejadiin ini sebagai bahan giveaway #halah

Kesatu, kenapa Lucas yang seniman bisa pacaran ama Annabel yang rocker. Mana karakter mereka beda banget, pula! Lucas kalem dan ganteng (eh, ganteng itu bukan karakter ya?:p), Annabel acuh tak acuh en punya banyak tato (oke, yang terakhir lagi-lagi bukan karakter). Hmm, mungkin jawabnya adalah...semua karena cinta #halah Anyway, karena "Mama" juga bukan film romantis, kayaknya engga penting juga buat ngejelasin kisah jadian mereka.

Kedua, ada kejadian dimana Lucas kudu dirawat di RS. Trus waktu Annabel meminta dia cepet sembuh biar bisa bantuin dia ngurusin 2 anak tadi, kenapa Lucas pake acara bilang "satu hari lagi aku keluar dari RS", tapi nyatanya dia engga keluar-keluar juga sampe entah berapa hari. Apakah Lucas termasuk golongan PHP alias Pemberi Harapan Palsu?

Tapi beneran deh, aku ngerasa sangat berempati pada Annabel. Secara waktu test pack aja dia ngarepnya negatif, tapi trus tiba-tiba dapet "rejeki" disuruh ngerawat 2 anak berkebutuhan khusus - sendirian tanpa Lucas, aku heran kenapa Annabel engga pengen bunuh diri aja. Eh, tapi secara di poster film namanya dia yang dipajang yang berarti dia adalah tokoh kunci, berarti dia memang terpaksa kudu mengemban tanggung jawab yang berat itu dan mengenyahkan pemikiran buat bunuh diri #pukpuk Annabel

Ketiga, dalam film ada tokoh bernama Bibi Jean yang ngeyel pengen dapetin hak asuh atas Victoria dan Lily. Kenapa pake acara pengen? Trus benernya dia itu adiknya ibunya ato bapaknya?

Keempat, kenapa dalam film horor itu, orang-orangnya hobi banget milih malam hari buat ngelakuin penyelidikan tentang suatu objek? Kalo bisa siang, kenapa musti malem, gitu? Sepertinya itu hanya akal-akalan sutradara biar efek horornya lebih dapet #pukpuk pemain film horor

Kelima, kenapa dalam film horor itu, tokoh-tokohnya pada kepo. Misalnya niy, mereka ngedenger suara aneh. Kenapa musti ngedatengin sumber suara? Kenapa engga sembunyi aja di balik selimut?

Keenam, kenapa waktu kita nonton tadi, ada anak kecil (cewek) yang juga nonton tapi kayaknya kita engga ngedenger dia teriak-teriak kengerian? Kenapa kita bisa kalah dengan anak itu? Kenapahhh?? Mungkinkah dia tidak menganggap apa yang bagi kita terlihat menyeramkan terlihat sebagai suatu hal menyeramkan? Susunan katanya bikin bingung ya? Yah, pokoknya maksudnya gitu deh...

Trus gimana bisa tuh ortunya ngajakin dia nonton film horor? Apakah karena di poster filmnya adalah sosok Lily sehingga ortunya mengira ini adalah film anak-anak? Belum lagi, film tadi baru slese jam 21.15 yang harusnya adalah sudah waktunya itu anak kecil bobo. Apakah anak itu punya penyakit insomnia dan nonton film horor adalah obatnya?

Ketujuh, jadi sebaiknya sebutan "Mama" diganti jadi apa ya? Ceritanya niy Ivna jadi galau menyebut dirinya sendiri dengan panggilan "mama" untuk Baby Nizam. Siapa yang tahu saat itu Nizam sedang berkomunikasi dengan siapa.

Emm, lama-lama pertanyaanku jadi makin absurd. Udah ngantuk parah, kayaknya. Jadi kita sudahi disini aja kali, ya...

No comments:

Post a Comment