Monday, 4 February 2013

Tentang Rasa Kecewa

Awal Januari kemarin diisi dengan kekecewaan terhadap temen-temen yang udah aku anggap deket tapi ternyata beberapa kali malah menimbulkan sakit hati sampe aku memutuskan untuk left dari group whatsapp tempat kami biasa berbagi cerita. Kesalahan bukan terletak pada mereka, tapi aku yang sensitif merasa kurang cocok untuk berada bersama temen-temen yang blak-blakan seperti mereka. Baru beberapa minggu kemudian aku bersedia di-invite lagi, tapi perasaan di dalamnya sudah engga sama. Sampai pada suatu ketika aku engga sengaja nge-delete aplikasi whatsapp messenger di Tab-ku yang otomatis membuatku left group lagi. Sampai saat ini aku masih engga pengen re-install whatsapp. Jadi ya sudah...

Aku pernah baca 1 quote :
There comes a time where you must become cold and separate the ones who are tearing you down...

Kekecewaan selanjutnya datang menimpa de Lima yang mewakili kantor dalam Lomba Mencari Bakat yang pesertanya adalah 10 kantor yang lokasinya saling berdekatan, termasuk kantor kami. De Lima bener-bener abis-abisan dalam nyiapin materi untuk lomba ini. 

Untuk persiapan babak penyisihan, nyaris 3 minggu kami habiskan untuk nyiapin materi. Aku yang sempat cuti 3 hari yaitu Senin sampai Rabu jadi engga maksimal dalam memanfaatkan waktu cuti. Selasa sore, sepulang dari Bali, aku langsung menuju kantor buat bantu-bantu ngedit materi. Rabu-nya juga gitu. Abis ngurus pencairan Jamsostek lanjut spa, sorenya aku ke kantor buat finishing materi.

Pada hari H, performance drama musikal kami di babak penyisihan berhasil membawa kami ke babak final tanggal 1 Februari kemarin. Waktu yang tersedia buat nyiapin materi ke final cuma 1 minggu. Ditambah 1 personil de Lima yaitu Yofan lagi konsinyering di Bogor. Walopun tiap malam kami udah "lembur sukarela" tiap pulang kantor (termasuk Ivna yang jadi kehilangan waktunya bersama Baby Nizam), bahkan pada malam terakhir persiapan, kami baru ninggalin kantor jam 23.30, hasil akhirnya tetep engga bisa maksimal.

tampang kucel de Lima di malam terakhir menjelang final
 
penampakan waktu penyisihan




penampakan waktu final

Btw, fotonya kecil-kecil cos resolusinya emang kecil, secara cuma pake BB. Di foto pertama, Ivna engga ada cos lagi ijin pulang ke Semarang. Di foto kedua, Budi yang engga ada soalnya pas kita poto-poto dia udah balik ke ruangannya. Oya, cerita drama musikal kita itu tentang cinta segitiga. Akhir ceritanya adalah pengantin cewe (yaitu aku) menyerahkan kekasihnya kepada sahabatnya. Tragis...

Kami masih inget banget reaksi orang-orang kantor setelah ngeliat perform kami di babak penyisihan. Keren, bagus, orisinal, en bla bla bla lainnya yang ngungkapin rasa senang, puas dan bangga mereka terhadap hasil kerja keras kami selama 3 minggu. Tapi di babak final kemarin? Wewww, berbalik 180 derajat. Dari 100-an penghuni kantor, cuma 5%-nya yang tetep kasih semangat, termasuk Kasi aku yang langsung ngajak toss waktu kami turun dari panggung, juga Dhewi yang bilang terharu waktu nonton kami.

Yang lainnya hanya bisa mencela. Ada yang protes kenapa selama ini kita kayak maen rahasia-rahasiaan. Coba kalo dari awal kita nunjukin progress kita ke mereka, kan mereka bisa komen. Nah, disini masalahnya. Kita kan juga engga enak kalo ada masukan tapi kita engga bisa mengakomodirnya. Secara waktunya juga terbatas banget. Yang lebih menyedihkan, sebagian besar penghuni kantor lainnya bersikap tidak peduli, seakan perform kami di final kemarin tidak pernah ada. 

Bener-bener ironis. Usaha keras kami kayak engga dihargai. Padahal kami nyaris abis-abisan. Pikiran, perasaan, waktu, juga materi (baca : duit). Untuk yang terakhir, mudah-mudahan bisa di re-imburse. Walo engga yakin juga, siy. Secara dari awal rapat yang mana aku hadir sebagai koordinator kantor dalam kepesertaannya dalam lomba mencari bakat udah dikasih tau kalo biaya bakal diganti asal menang. Padahal asal mereka tau, ada kantor lain bahkan rela ngeluarin kocek 4 juta buat perform mereka.

Sebenarnya beberapa hari lalu, waktu aku ngerasa bener-bener capek, aku sempat berpikir : apakah ini terlalu banyak? Sekarang aku nyadar, iya, memang terlalu banyak. Apalagi untuk ukuran kantor yang penghuninya bahkan tidak tahu cara berterima kasih dan cara menghargai kerja keras orang lain. Mungkin beban kerja yang terlalu banyak membuat mereka jadi agak-agak anti sosial. Entahlah...

Aku sempat nyampah di FB : 
Pelajaran yang bisa aku dapatkan adalah : kantor ini dingin... untuk bisa menjalani keseharian di dalamnya tanpa harus berlinang air mata, mungkin aku harus memiliki hati yang beku, seperti penghuni lainnya...

Aku juga bahkan sempat merasa apa yang udah kita lakuin adalah hal yang bodoh. Tapi waktu nyampah lagi di FB, ada seorang sahabat kasih komen yang bikin terharu :
"Tolong definisikan orang bodoh itu seperti apa? orang yang punya passion itu jauh lebih hebat daripada orang yang hanya ngeliat, apalagi menganggap hal itu hal bodoh. ilmuwan2 pada masa penemuannya juga dianggap aneh sama lingkungannya, tapi hidup dengan passion itu jauuuh lebih hebat."
Bersyukur banget aku punya de Lima. Walopun pengerjaan project kemarin itu sempet diwarnai pertengkaran, tapi semuanya baik-baik saja. Pelajaran buat de Lima : kalo lain waktu disuruh ngerjain beginian lagi, engga usah aja. Biarin amat yang lain pontang-panting tanpa kita. Pusing sendiri sono! Ada perkecualian siy, kalo penghuni kantor udah insyaf. Kalo masih tetep kayak gini, kita yang rugi... Kita berusaha memberi kehangatan, tapi yang lainnya pengen berada dalam kebekuan abadi.

Tiba-tiba inget lagu lama dari Bee Gees. Engga tau juga ada hubungannya apa engga, pengen aja nulis liriknya disini.

I started a joke, which started the whole world crying,
but I didn't see that the joke was on me, oh no.

I started to cry, which started the whole world laughing,
oh, if I'd only seen that the joke was on me.

I looked at the skies, running my hands over my eyes,
and I fell out of bed, hurting my head from things that I'd said.

Til I finally died, which started the whole world living,
oh, if I'd only seen that the joke was on me.

I looked at the skies, running my hands over my eyes,
and I fell out of bed, hurting my head from things that I'd said.

Til I finally died, which started the whole world living,
oh, if I'd only seen that the joke was one me.

No comments:

Post a Comment