Friday, 5 April 2013

Review Buku : "Cerita di Balik Noda" Karya Fira Basuki


Anak-anak adalah sumber kebijaksanaan hidup yang tak pernah kering jika kita mau melihatnya dengan cinta. Kenakalan mereka adalah kilau emas, dan kepolosan mereka adalah mentari pagi yang menghangatkan jiwa. Para ibu berbagi cerita tentang hubungan ibu-anak yang telah memperkaya jiwa mereka. (Fira Basuki)



Judul buku                    : Cerita di Balik Noda: 42 Kisah Inspirasi Jiwa
Penulis                          : Fira Basuki
Editor                           : Candra Gautama
Penerbit                        : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit                  : 2013
Jumlah halaman             : 248 halaman
Harga                           : Rp 40.000,-



Buku Cerita di Balik Noda berisi kumpulan kisah 38 orang ibu yang mengikuti lomba menulis "Cerita Di Balik Noda" yang diadakan oleh Rinso lewat Facebook beberapa waktu lalu. Fira Basuki, salah seorang  novelis Indonesia terkemuka mengembangkan cerita-cerita para ibu tersebut dan membuatnya lebih menarik dengan gaya bahasanya sendiri. Tak hanya menuliskan ulang, penulis yang  sebelumnya telah menerbitkan 26 buku ini juga menambahkan 4 kisah yang merupakan cerita hatinya yaitu kisah yang berjudul Bos Galak, Foto, Sarung Ayah, dan Pohon Kenangan. Membaca kisah Sarung Ayah, seperti membaca kisah nyata penulis yang harus merelakan suaminya dipanggil Tuhan pada bulan Maret 2012.

Mengusung tagline "42 kisah inspirasi jiwa", buku Cerita Di Balik Noda ini sarat akan kisah moral. Di dalamnya mengisahkan hubungan antara anak dengan orang tua dan juga siapa saja dalam keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Sudut pandang yang diambil juga bervariasi. Mulai dari sudut pandang sebagai anak, sebagai kakak, maupun sudut pandang sebagai istri. Bahkan dalam kisah pertama yang berjudul "Bos Galak", sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang sebagai seorang karyawan.

"Untuk para ibu di Indonesia. Berani kotor itu baik." Demikian kalimat yang menyapa pembaca saat mulai membuka lembaran-lembaran dalam buku Cerita di Balik Noda. Dikaitkan dengan kehidupan ibu dan anak, kotor merupakan hal yang tak bisa lepas sekaligus sangat penting dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak. Saat menjelajahi lingkungan sekitarnya, anak tentunya akan sulit terhindar dari kotoran dan noda, yang mana bisa berasal dari cat, tanah, pasir, bahkan lumpur. Kotoran dan noda tersebut tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Memberi kesempatan kepada anak untuk menjadi kotor saat mengeksplorasi lingkungan sekitarnya akan memberi pembelajaran, membangun karakter, dan meningkatkan kreativitas serta kepercayaan diri pada anak. Bahkan dalam hubungannya dengan kesehatan, kotor bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak. 

Seperti halnya noda cat yang penuh warna, kisah-kisah tentang noda yang tertuang dalam buku Cerita di Balik Noda ini kaya akan warna. Pembaca akan terlarut dalam kesedihan ibu dari Zidan, seorang anak autis dalam "Boneka Beruang Zidan",  kekecewaan istri sekaligus ibu yang terlupakan tanggal ulang tahunnya oleh suami dan anak dalam "Kado Ulang Tahun", kegalauan desainer batik yang mendapatkan inspirasi dari seorang anak tetangga dalam "Batik Kreasi Ivan", serta kehampaan yang berakhir dengan rasa haru dan bahagia yang dialami seorang istri dalam "Tak Jadi".

Pembaca bahkan bisa jadi akan penasaran, ingin ikut merasakan sensasi bermain di kubangan lumpur bersama kakek dan anak-anak dalam "Harta Sebenarnya" atau merasakan pengalaman memanjat pohon rambutan dalam "Pohon Kenangan".

Kisah anak-anak kreatif dalam  "Koki Cilik", "Master Piece" dan "Baju Kreatif" serta anak-anak berjiwa sosial tinggi dalam "Untuk Bu Guru", "Imlek untuk Lela", "Teman Sejati" dan masih banyak lagi sangat potensial untuk memancing rasa iri dalam hati para pembaca. Iri akan keberuntungan para ibu yang  memiliki anak-anak hebat yang begitu membanggakan. Iri yang positif tentunya. Karena pembaca  yang berasal dari kalangan orang tua utamanya ibu akan belajar menjadi panutan yang bisa mengarahkan dan membimbing anak-anaknya untuk selalu berbuat kebaikan. Dengan mengusung semangat "berani kotor itu baik", tentunya para orang tua yang biasanya menghalangi anaknya berkotor-kotor ria akan berpikir dua kali untuk melakukannnya lagi.

Noda yang menjadi benang merah antar cerita dalam buku Cerita di Balik Noda bukan cuma memiliki arti yang sempit yaitu noda sebagai sesuatu hal yang kotor, seperti noda tanah atau lumpur misalnya. Noda yang dimaksud dalam ini adalah noda dalam arti luas. Keburukan dalam hati kita, prasangka buruk terhadap orang lain merupakan noda dalam kehidupan. Seperti kisah tentang kebiasaan bergunjing dan menghakimi di kehidupan bertetangga dalam "Siluman Tikus", kecemburuan tak beralasan seorang kakak terhadap adiknya dalam "Di Balik Musibah", serta prasangka seorang istri terhadap suaminya dalam "Foto".

Buku Cerita Di Balik Noda layak dibaca bersama oleh ibu dan anak. Tentunya sang ibu perlu memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang beberapa hal yang mungkin agak sulit dicerna oleh anak-anak. Dengan membaca berbagai kisah tentang noda dalam buku ini, kita akan semakin memahami bahwa pengalaman bersentuhan dengan noda akan memperkaya pengalaman hidup kita. Jadi, jangan takut untuk kotor, karena berani kotor itu baik.

4 comments:

  1. Salam kenal, blognya keren. sukses ya mba

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga mba Astin. Thx for your compliment :)
    Makasiy udah mampir ;)

    ReplyDelete
  3. Yg paling bikin aku sesenggukan tuh Sarung Ayah mak. Soalnya ingat masa kecil waktu ditinggal bapak sekolah ke luar kota :)

    ReplyDelete
  4. Ya ampun, jadi nyaris kayak bisa ngerasain apa yang dirasain tokohnya ya, mak? Tapi cerita yang itu memang mengharukan.
    Oya, waktu launching bukunya trus ngebahas tentang itu, mba fira juga berkaca-kaca, inget almarhum suaminya :'(

    ReplyDelete