Monday, 23 September 2013

Utang yang Menjatuhkan Harga Diri *Plus DVDs Time*

Pas baru aja nyampe rumah, trus nerima bbm ini dari Mr. Banker :

Eh, tumben-tumbenan pake acara manggil "adik"? FYI, panggilan "adik" itu bukan yang biasa digunakan, kok. Jadi kenapa Mr. Banker tiba-tiba manggil "adik", itu gara-gara dia baca statusku waktu baru landing en lagi nunggu damri tadi : Ama Pak Damri ditanyain "adik mau kmana?" Hihihi...

Istirahat yang dimaksud Mr. Banker dalam bbm di atas pasti mengacu pada tidur. Masalahnya dari di pesawat tadi aku udah ngebet pengen nge-blog. Seperti biasa, ceritanya udah aku tulis di memo. Tinggal disalin aja disini. Temanya tentang utang-utangan lagi. Tapi kali ini subjeknya adalah saya sendiri. Parahnya, saya ngutangnya ke anak buahnya (eh, ex anak buah ding) Mr. Banker. Malu-maluin banget engga siy? Bener-bener menjatuhkan harga diri >.<

Ya ampun, gimana ceritanya siy, sampe bisa terjadi utang-utangan begitu? Baiklah, saya jelaskan kronologis peristiwanya. Harap maklum kalo agak panjang cos niatnya sekalian mau cerita tentang wiken kemarin. Kalo pengen langsung ke cerita tentang utang, monggo di-skip aja sampe paragraf... entahlah, cari sendiri aja ya :p

Bermula dari Nota Dinas dari Kantor Pusat yang di-fax ke kantor Mr. Banker yang menyatakan bahwa Direktur T bakal dateng ke Makassar di hari Minggu. Fax-nya baru masuk hari Jumat. Masalahnya, aku pas ada jadwal ke Makassar wiken itu. Sebenarnya, kalopun fax itu masuk seminggu sebelum, ato bahkan 3 minggu sebelum wiken ini pun, aku juga tetep bakal ke Makassar. Jadi perkara mendadaknya engga penting juga untuk dibahas.

Nyampe rumah Sabtu dini hari jam 2 pagi, jam 9 paginya Mr. Banker udah ninggalin rumah buat nyiapin bahan di kantornya. Bisa aja siy, aku ngikut ke kantornya, tapi mendingan waktunya aku pake aja bobo deh *istripemalas* Jam 12, Mr. Banker sempat pulang ke rumah. Sepertinya dia engga tega ninggalin istrinya bengong di rumah sendirian. Walo dia tetep balik ke kantor lagi jam 2an. Trus jam 5 pulang. Jadi engga berasa hari Sabtu, deh :(

Biasanya siy agenda kita kalo aku ke Makassar adalah nonton di XXI sekalian nge-mall dikit-dikit. Oke, waktunya ngecek www.21cineplex.com. Karena film yang menarik buat Mr. Banker adalah 2 Guns yang mana bagi aku adalah sangat tidak menarik, kita simpulkan bahwa kali ini tidak tercapai kesepakatan untuk nonton.

Tapi mau engga mau kita tetep kudu keluar rumah secara di rumah lagi engga ada bahan makanan. Pilihan jatuh ke PH karena aku lagi ngidam salad. Dan inilah menu saya untuk malam ini :D

salad, de el el, de el el
Oya, sebelum ke PH, kita sempat mampir Giant dulu untuk belanja dikit-dikit plus beli  beberapa DVD buat ditonton ntar malem. So, pulang dari PH kita langsung selonjoran depan tipi. It's DVDs time...

The Vow langsung bikin aku jatuh cinta dari awal nonton. Sooo romantic! 

(source : en.wikipedia.org)

Yang paling aku suka ya bagian mereka ngucapin "the vow" alias sumpah pernikahannya.

Paige : I vow to help you love life, to always hold you with tenderness and to have the patience that love demands, to speak when words are needed and to share the silence when they are not, to agree to disagree on red velvet cake, and to live within the warmth of your heart and always call it home.

Leo : I vow to fiercely love you in all your forms, now and forever. I promise to never forget that this is a once in a lifetime love. And to always know in the deepest part of my soul that no matter what challenges might carry us apart, we will always find our way back to each other.

Abis nonton The Vow, lanjut nonton Warm Bodies. Kalo yang ini, aku penasaran aja abis baca review-nya di blognya Cinetariz yang diawali seperti ini :
Jangan terburu-buru memberikan penghakiman awal terhadap Warm Bodies dengan menyebutnya sebagai ‘another Twilight Saga’, pengekor ‘romansa epik Cullen dan Swan’, kisah cinta menye-menye atau berbagai sebutan lain yang pada akhirnya mengaitkan film yang beranjak dari novel berjudul sama karangan Isaac Marion ini dengan franchise laris tersebut. Karena pada kenyatannya, selain kesamaan tema yang mengapungkan kisah cinta terlarang antara manusia dengan makhluk fantasi, Warm Bodies jelas sangat berbeda dengan Twilight. Inspirasi yang dijadikan sebagai pijakan untuk mengembangkan kisah adalah karya legendaris milik Shakespeare, Romeo and Juliet. Lantas, segala elemen ‘classic love story’ ini dituangkan ke dalam kuali, diaduk merata bersama ramuan bernama ‘post apocalyptic’, dan ‘zombie’. Terdengar aneh? Memang, hingga Anda menyaksikan hasil eksekusi dari Jonathan Levine dengan mata kepala sendiri. Adalah sebuah kejutan yang menyenangkan saat mengetahui kisah romansa fantasi ini terhidang sebagai sajian yang segar, manis, hangat, jenaka, sekaligus menghibur. 
Karena dibilang sangat berbeda dengan Twilight, aku jadi pengen nonton (FYI, I'm definitely not one of Twilight's fans). Apalagi menurut pendapat Cinetariz, film ini masuk kategori exceeds expectations.

(source : en.wikipedia.org)
Pendapat setelah nonton, hmm, beberapa dialog ato voice over-nya juga lucu. Misalnya waktu voice over-nya R bilang "This date is not going well. I want to die all over again." Hehehe... Film ini memang lumayan menghibur cos menyajikan zombie dalam sudut pandang berbeda. But still, for me, it's so-so...

Oke, untuk edisi Satnite, DVD-nya dua dulu yak.

Minggu pagi, abis sholat Subuh aku engga bobo lagi kayak biasanya. Sayang banget waktunya kalo cuma diabisin dengan bobo *halah, padahal biasanya juga bobo mulu* Secara siangnya Mr. Banker juga bakal pergi, gitu. Sayangnya Mr. Banker sepertinya agak kurang sehat, jadi dia milih bobo aja, di kasur depan tipi. Ngeliat dia lemes, aku udah pengen nyiapin sarapan aja. Tapi Mr. Banker bilang ntar aja, apalagi pizza yang dibeli semalam masih sisa separo. Dia cuma pengen teh panas. Oke deh...

Selagi Mr. Banker bobo, DVDs time-ku berlanjut. Kali ini aku milih Now You See Me yang emang udah ada di koleksinya Mr. Banker. Jadi dia engga rugi kalo emang pengen bobo aja, secara emang udah nonton. Lah, emang kalo belum nonton, jadi rugi gitu? Emm, engga juga siy #oke, abaikan ini

Seperti The Vow, Now You See Me udah membuatku jatuh cinta dari awal film. Dengan cara berbeda tentunya. Secara The Vow adalah drama romantis, sedangkan Now You See Me bercerita tentang pertunjukan sulap yang berpadu dengan aksi perampokan bank. Kalo nonton ini, baiknya menikmati aja jalannya cerita, tanpa pake acara menebak-nebak siapa, kenapa, bagaimana...  Daripada salah mulu. Karena kata J. Daniel Atlas, "the more you look, the less you see". Sebuah film yang keren dari segala aspeknya. Sempet nyesel kenapa engga nonton versi 3D-nya di layar lebar.

(source : en.wikipedia.org)
Now You See Me selesai, nyambung Lost In Translation. Film lama, siy. Mr. Banker beli DVD-nya karena dia ngefans abis ama Mba Scarlett Johansson. Kita nonton bareng, deh, disambi sarapan pizza. Buatku, film ini engga spesial. Yang bikin beda cuma karena mengambil setting di Jepang. Karena Jepang belum masuk list negara yang pengen aku datengin (karena satu dan lain hal), aku biasa aja nontonnya.
(source : id.wikipedia.org)
Dialog yang oke menurutku adalah ketika Bob en Charlotte membicarakan anak.

Bob : It gets a whole lot more complicated when you have kids.
Charlotte : It's scary.
Bob : The most terrifying day of your life is the day the first one is born.
Charlotte : Nobody ever tells you that.
Bob : Your life, as you know it... is gone. Never to return. But they learn how to walk, and they learn how to talk... and you want to be with them. And they turn out to be the most delightful people you will ever meet in your life.
Charlotte : That's nice.

Jam 12an, abis sholat Dhuhur, Mr. Banker berangkat. Jam 2 dia kasih kabar kalo acara belum juga dimulai, jadi sepertinya dia engga bisa nganterin aku ke bandara. Mr. Banker sempat terpikir buat menggeser waktu pulangku jadi besok. Ijin, gitu. Tentunya dengan resiko yang udah pasti, potong gaji. Plus beli tiket baru, karena tiketku buat balik adalah tiket promo yang engga bisa di-reschedule. Tapi dengan sangat terpaksa aku tolak karena besok aku kudu nyiapin dokumen-dokumen terkait audit manajemen resiko di hari Selasa. Maafkan...

Bengong di rumah, aku pengen masak aja *tumben-tumbenan*, yang tadi pagi tertunda. Apesnya, entah kenapa, kompornya engga mau nyala. Hufftt, ternyata saya memang sangat tidak berjodoh dengan kegiatan dapur >.< Untung kemarin sempat beli roti di Giant  *maksi pake roti*

Untuk ke bandara, aku udah berencana buat naik taksi aja sampai kemudian Mr. Banker mengabarkan kalo dia udah minta tolong Iyan buat nganterin aku. Iyan ini pernah jadi anak buahnya Mr. Banker. Walo sekarang udah pindah kantor, mereka masih sering nongkrong bareng. Dia bakal jemput aku bareng anak-istrinya. Kebetulan aku udah beberapa kali jalan bareng mereka. Maen ke Bantimurung, jenguk baby, sampe tahun baruan bareng. Jadi udah lumayan akrab, lah.

Sambil menunggu, aku nonton Oblivion. Secara ini termasuk film action, kayaknya agak aneh kalo jadi pilihanku buat ngabisin waktu. Sendirian pulak, nontonnya! Alasannya tidak lain tidak bukan adalah karena aktor utamanya adalah Om Tom Cruise. Hehehe... Baru separo film, Iyan beserta keluarga kecilnya datang menjemput.

(source : id.wikipedia.org)

Benernya aku pengen request ke Iyan buat mampir ambil duit dulu di ATM kantornya Mr. Banker, secara persediaan duit cash di dalam dompet adalah terbatas. Tapi pas aku masuk mobil, Dimitri, anaknya Iyan, pas lagi rewel. Engga lama dia malah muntah. Kita semua panik. Untunglah beberapa saat kemudian, Dimitri udah baikan. Udah bisa canda-candaan lagi sama aku, kayak biasanya. Masalahnya, rencana ke ATM udah kadung terlupakan.

Sampai di bandara, resto yang terdekat dengan area parkir cuma ada dua, AW en Solaria. Setelah beredar kabar kalo Solaria belum punya label halal, aku engga berani kesana lagi. Otomatis AW jadi jujugan. Biar simpel, kita pesen menu set berempat, terdiri dari 4 nasi, 6 ayam, 2 sup, en 4 minuman (Rootbeer ato lemon tea). Pikirku, sapa tau Si Iyan kurang kenyang kalo cuma makan seporsi nasi, gitu. Kita juga pesen french fries en Choco Lava Cake. Pas mau bayar, aku langsung ngasihin CC-ku.

Panik seketika melanda saat mba kasir menyatakan bahwa mereka hanya menerima pembayaran cash. Merogoh-rogoh kantong dompetku, uang kertas warna merahnya cuma ada selembar. Yang ada malah lembaran-lembaran dolar sisa dari Singapura minggu lalu. Setelah mengkombinasikan beberapa pecahan antara 20 ribu sampe 5 ribu, tetep aja masih kurang 26.500. Mana ATM terdekatnya jauh, pulak. Hiks...

Iyan dengan tanggap mengangsurkan selembar 50ribuan dan kemudian mba kasir menyerahkan uang kembaliannya.

Dengan demikian, secara resmi aku ngutang pada Iyan. Walo cuma 30ribu, tetep aja rasanya malu-maluin. Langsung kirim laporan ke Mr. Banker buat ngegantiin 50 ribunya Iyan. Yang bikin hampa waktu bbm Mr. Banker trus baca balasannya.

Aku : Maap ya, jadi malu-maluin
Mr. Banker : Gpp udah biasa

Jadi, apa maksudnya udah biasa  -_____-"

No comments:

Post a Comment