Saturday, 19 October 2013

Masih Ada Satu Suntikan Lagi

Baiklah, sekarang cerita tentang kelanjutan Tujuh Kali Suntikan. Pada hari ke-15 (dihitung dari awal menstruasi) tepatnya hari Selasa tanggal 15 Oktober aku mendapat suntikan ke-7 pada jam 14.45. Keesokan sorenya, aku periksa ke Dokter Anggia. Kebetulan jadwalnya lagi di BIC. Hasilnya menggembirakan. FYI, untuk bisa dibuahi, sel telur harus mencapai ukuran minimal 18mm. Selama ini ukuran sel telurku biasanya cuma sekitar 8 mm. Namun, dengan suntikan intensif 7 hari berturut-turut kemarin, hasilnya terdapat sel telur dengan ukuran 18 mm dan 20 mm di ovarium kiri, dan sel telur dengan ukuran 22 mm di ovarium kanan. Oya, sebenarnya kurang tepat kalo 18, 20, dan 22 mm itu disebut ukuran sel telur. Karena itu hanya menyatakan besar dari selubung pembungkus sel telur atau folikel. Sel telur akan dikeluarkan oleh folikel bila sudah matang. Sedangkan besar sel telur normal sekitar 0,1 mm. 

Oya, dalam keadaan normal, hanya satu telur yang dilepaskan per ovulasi. Namun dalam terapi infertilitas seperti yang aku jalani sekarang, obat-obatan yang diberikan dapat merangsang indung telur untuk mengeluarkan telur lebih dari satu yang dapat dibuahi pada waktu yang sama. 


Karena melihat sel telurku yang ukurannya memenuhi syarat ada 3, Dokter Anggia menyarankan untuk OPU (Ovum Pick Up) yaitu pengambilan sel telur yang merupakan salah satu tahapan dalam bayi tabung. Kalo aku menjalani bayi tabung, aku bisa punya anak kembar. Karena kalo 3 sel telur tadi sama-sama dilakukan proses pembuahan, kemudian ketiganya jadi embrio, kesemuanya bakal ditransfer ke rahimku. Kehamilan bisa saja terjadi pada semua embrio yang ditransfer tersebut.

Tentang bayi kembar, jenis kembar tergantung dari proses pembuahannya. Monozigot atau kembar identik terjadi apabila satu sel telur dibuahi oleh sel sperma. Sel telur yang telah dibuahi lalu membelah menjadi 3 atau 5 sehingga terbentuk 2 atau lebih embrio yang tinggal di satu kantung plasenta. Biasanya berjenis kelamin sama, wajahnya sulit dibedakan dan mengandung materi genetik sama.

Sedangkan kembar dizigot atau fraternal terjadi bila 2 sel telur dibuahi oleh 2 sel sperma seperti pada proses bayi tabung. Masing-masing sel telur membelah sehingga terbentuk 2 embrio yang hidup di 2 kantung plasenta yang berbeda. Biasanya tidak berwajah mirip, tampak seperti adik-kakak, kelaminnya bisa sama atau berbeda. Dari penjelasan ini, meskipun jenis kelamin kedua janin sama, belum tentu kembar identik (sumber dari sini). 

Info lagi, salah satu prosedur dalam proses bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) memang memasukkan embrio multipel ke dalam rahim untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan. Sekitar 25-30% kehamilan dari IVF adalah kembar, 5% triplet (kembar 3), dan <1% adalah kuadriplet (kembar 4) atau lebih (sumber dari sini).

Aku hanya menjawab, "Wah, kalo untuk bayi tabung, saya harus diskusi sama suami dulu, Dok."

Hasil diskusi dengan Mr. Banker selesai USG tv :
Kalo mau dilanjutkan ke bayi tabung ya engga papa, ntar kita jual emas aja. Tapi anaknya nanti judulnya anak emas. Hehehe...

Dari aku pribadi, aku engga siap untuk menjalani OPU. Ngebayangin ovarium ditusuk-tusuk ama jarum udah bikin perutku mules. Walo katanya dibius, tetep aja serem. Hihihi...

Saran dari seorang temen yang pernah bayi tabung... kok sayang ya, kalo di tengah proses insem trus berubah arah jadi bayi tabung? Secara treatment-nya dari awal juga udah beda. Kalo bayi tabung, dosis suntikan yang diberikan memang lebih tinggi, jadi sel telur yang dihasilkan jauh lebih banyak.

Trus juga, kayanya aku belum kuat mental kalo nantinya ternyata gagal. Mana biayanya juga engga sedikit tho? (total sekitar 65juta ++). Kalo insem ini nantinya gagal (mudah-mudahan engga lah), aku masih bisa berharap pada insem selanjutnya. Kalo sampe 3 kali gagal, aku masih bisa berharap pada bayi tabung. Tapi kalo dari awal udah bayi tabung trus gagal, piye? Baiklah, pastinya aku masih bisa berharap pada Yang Maha Kuasa. Tapi secara proses ini juga merupakan ikhtiar, hmm, bingung juga ya, kudu gimana.

Jadi, kami putuskan untuk tetap melanjutkan insem. Kemarin yaitu Rabu tanggal 16 Oktober jam 9 malam, aku dijadwalkan untuk mendapat suntikan Pregnyl untuk memecahkan folikel/kantung telur. Jadilah kemarin malem, abis makan sate ama Ratna en Yofan, aku naik taxi ke RS Bunda.

Pregnyl ini mengandung Human Chorionic Gonadotrophin (HCG) yang terbuat dari urine ibu hamil (yes, it's true, beritanya ada disini). Dokter Anggia meresepkan dosis 10000 iu, sehingga aku harus membeli 2 paket Pregnyl, masing-masing harganya Rp 505.700,-

Pregnyl

HCG (Human Chorionic Gonadotropic) yang berfungsi mempertahankan penebalan endometrium yang digunakan janin sebagai media pertumbuhannya. Jadi HCG berfungsi menggantikan peran hormon progesteron, karena hormon ini tidak bisa diproduksi terus oleh korpus luteum. - See more at: http://biologimediacentre.com/sistem-reproduksi-3-daur-menstruasi/#sthash.9TQEjX4V.dpuf
HCG (Human Chorionic Gonadotropic) yang berfungsi mempertahankan penebalan endometrium yang digunakan janin sebagai media pertumbuhannya. Jadi HCG berfungsi menggantikan peran hormon progesteron, karena hormon ini tidak bisa diproduksi terus oleh korpus luteum. - See more at: http://biologimediacentre.com/sistem-reproduksi-3-daur-menstruasi/#sthash.9TQEjX4V.dpuf
HCG (Human Chorionic Gonadotropic) yang berfungsi mempertahankan penebalan endometrium yang digunakan janin sebagai media pertumbuhannya. Jadi HCG berfungsi menggantikan peran hormon progesteron, karena hormon ini tidak bisa diproduksi terus oleh korpus luteum. - See more at: http://biologimediacentre.com/sistem-reproduksi-3-daur-menstruasi/#sthash.9TQEjX4V.dpuf
Dalam 1 kotak kemasan, terdapat 2 ampul. Ampul pertama berisi cairan bening, sedangkan ampul kedua berisi bubuk berwarna putih. Suster memasukkan cairan dari salah satu ampul ke dalam suntikan kemudian mencampurkannya dengan bubuk putih dari kedua kemasan. Kata suster, cairannya engga perlu dua-duanya dipakai, karena yang penting adalah bubuk putihnya.

2 ampul dalam 1 kemasan


Selanjutnya suster mengganti jarum yang tadi dipake buat nyampur-nyampur obat dengan jarum untuk menyuntik. Selanjutnya... disuntik, deh. Kalo suntik Puregon yang tujuh kali kemarin itu di perut, suntikan Pregnyl ini dilakukan di pantat. Sebelum menyuntik, susternya nanya, "mau kanan ato kiri?' Terserah aja, siy, sama aja. Dan dipilihlah pantat kanan.

Rasa saat disuntik adalah lebih sakit dibanding suntik Puregon. Tapi setelahnya engga ada rasa perih yang lama kayak Puregon. Jadi engga sampe 1 menit baring-baring, aku udah bangun. Beberapa kali setelahnya, terkadang ada rasa sakit, tapi engga sakit banget. Biasa aja. Cuma niy pantat sampe sekarang kalo kesenggol masih njarem. Hahaha...

Oya, pas mau disuntik, tiba-tiba Mr. Banker bbm. Dia bilang kalo lagi otw ke RS. Lha emang dia dimana? Jadi begini, kebetulan banget, 3 hari ini Mr. Banker lagi ada diklat di daerah Ragunan. Nginepnya di Hotel Santika Slipi. Karena Slipi ke Kemayoran itu lumayan jauh, aku bilang ke Mr. Banker, dia nginep di Slipi aja. Baru Kamis dan seterusnya nginep di rumahku (soalnya aku sendirian di rumah). Lha kok ternyata dia engga tega, jadi memutuskan buat nyusul aku di RS. Hehehe...

Oke, suntik pemecah telur selesai. Reaksinya akan didapat setelah 36 jam yaitu besok yang mana sudah dijadwalkan untuk tindakan inseminasi. Semangat!

2 comments:

  1. perjuangan yg tak mudah tp ttp semangat! optimis! dan terus berdoa mak.. smoga berhasil yaa..

    ReplyDelete
  2. Yup, tetap semangat ini mak! Makasiy banyak atas dukungannya selalu ya, mak :-*

    ReplyDelete