Thursday, 31 October 2013

Masuk IGD dan OHSS

Gayanya aja bilang bed rest bikin semangat nge-blog. Ternyata di minggu kedua udah balik asal lagi. Hehehe... Mohon dimaklumi. Engga bisa ngasih tau alasannya, karena emang engga ada -_-" Jadi ya, di minggu kedua bed rest, aku bener-bener udah engga bisa disebut bed rest lagi. Abisnya bosen di kamar sendirian. Nonton tipi bosen, baca buku bosen, baca majalah bosen, cuap-cuap di socmed bosen, makan aja bosen *eh, beneran ini, napsu makan ilang banget*, jadilah aku memberanikan diri untuk turun ke bawah. Paling engga, disana bisa maen ama Baby Nizam. Hiks, semoga kenakalan ini tidak membawa efek buruk kepada si baby. Lah, emang udah ada? Sugesti aja kalo udah ada. Walo sugesti ini tetap tidak membantu untuk memaksa diri buat makan. Hiks...

Kegiatan nulis yang aku lakukan cuma mengedit beberapa tulisan buat aku kirim ke koran en majalah. Sapa tau nyantol. Hehehe... Untuk cerita kali ini, diingatkan oleh seorang temen untuk menuliskannya. Temenku yang ngingetin itu bukan lagi program, loh. Lah mau program gimana, secara dia cowo. Belum merid, pulak! Ini dialog via bbm kami 2 hari yang lalu :


Mas H : Hasil inseminasi kok belum ditulis di blog...Penasaran nih dan nunggu-nunggu... Hehe... Kamu sehat-sehat aja kan?
Aku : Memang belum Mas, tanggal 3 Nov baru bisa tau. Aku sempat masuk IGD karena sesak napas siy :p
Mas H : Oke...jangan lupa ditulis ya...Penasaran banget. Trus tulis juga efek-efek sampingnya, karena aku baru tau ada inseminasi semacam ini. Hehe...gudlak ya... Moga ga ada efek-efek lainnya lagi
Aku : Siap, Mas. Iya, mudah-mudahan ga ada lagi

Jadilah aku sekarang menuliskannya.

Aku udah pernah bilang kan, kalo setelah tindakan insem di tanggal 18 kemarin, aku diharuskan untuk suntik? Dua kali suntikan, tepatnya pada tanggal 22 dan 25. Tanggal 22 berjalan dengan lancar-lancar aja. Seperti biasa, aku sendirian ke RS pake taxi. Sebelum jadwal yang diminta, sopir Blue Bird udah dateng. Jam 13.45, aku udah nyampe BIC. Aku ke apotek untuk meminta obat yang aku titipkan kemudian ke arah belakang, menuju tempat suster jaga. Suntikan Pregnyl 1500 IU ini dilakukan di pantat. Rasanya? Engga sakit, kok. Beda banget ama suntikan Puregon. Aku nyaris engga pake acara leyeh-leyeh setelah disuntik.

Yang beda adalah pada hari dimana suntikan kedua dilakukan. Di hari Jumat siang tanggal 25 Oktober itu, sesak napasku udah parah aja. Memang siy, beberapa hari setelah insem, aku ngerasa sering sesak napas. Kadang perut atas juga kerasa sakit. Belum lagi rasa mual yang juga kerap melanda. Nah, di siang hari itu, sesak napasku pas lagi parah-parahnya. Karena udah kebiasaan kalo taxi dateng, mobilnya engga bisa masuk gang, aku jalan ke ujung gang. Sambil jalan itu, sopir taxinya telpon, minta petunjuk arah. Dengan napas yang tersengal-sengal, aku susah payah ngejelasin. Akhirnya, 40 menit dari waktu yang dijadwalkan, tiba juga Blue Bird-nya.

Sesampai di BIC, seperti biasanya, aku langsung mendatangi apotek, dilanjutkan dengan disuntik oleh suster jaga. Aku sempat bertanya kepada suster, kenapa aku sesak napas. Kata suster, itu normal aja, reaksi obat. "Jadi saya engga perlu konsul ke Dokter?" Engga usah, katanya. Baiklah...

Meskipun sudah mendapat jawaban dari suster, aku masih merasa khawatir. Jadi aku mengirim sms kepada Dokter Anggia, mengabarkan kalo aku sesak napas. 

Setelah itu, aku naik taxi ke Sarinah untuk berbelanja stok buah di Hero. Selesai berbelanja, aku naik taxi untuk pulang. Belum jauh taxi berjalan, sms balasan dari Dokter Anggia masuk. Beliau langsung menyuruhku langsung ke IGD untuk diuap. Aku pun meminta sopir taxi mengubah arah. Dari Kemayoran berganti menjadi RSU Bunda. RSU Bunda ini letaknya di seberang RSIA Bunda yang sering aku datangi kalo waktunya konsul ama Dokter Anggia.

Sesampai di RSU Bunda, satpam mengantarku ke IGD. Kepada petugas, aku bercerita kalo seminggu yang lalu, aku baru mendapat tindakan insem. Sekarang aku sesak napas, dan oleh Dokter Anggia disuruh ke IGD untuk diuap. Petugas yang ada menemaniku masuk ke dalam ruang IGD. Sebelumnya menawarkan kepadaku untuk menitipkan kantong belanjaan di kasir.

Sesampai di kamar emergency, aku disuruh berbaring. Kemudian dipasang oksigen di hidungku.  Walo di IGD, aku sempat motret-motret loh. Tapi engga ketauan kok, ama suster en dokternya. Hehehe...

diambil dari posisi duduk di ranjangnya :p

jempol kananku dijepit beginian

Dokter umum yang sedang jaga mendatangiku. Aku langsung bersemangat mengulang ceritaku, seperti kepada petugas di depan ruang IGD tadi. Melihat semangatku bercerita padahal napas tersendat-sendat, dokter tersebut terlihat sedikit khawatir sehingga memintaku untuk diam dulu. Beliau akan menanyakan beberapa hal, aku cukup menjawab dengan anggukan atau gelengan. Aku pun menutup mulut dan menuruti perintahnya.

Selanjutnya dilakukan beberapa pemeriksaan, meliputi pemeriksaan tekanan darah, juga kondisi jantung dan paru-paru. Untuk jantung, dilakukan pemeriksaan EKG (elektrokardiogram). Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memasang kabel-kabel ke beberapa titik di badanku. Kabel-kabel itu terhubung dengan alat bernama kardiograf yang akan mencetak grafik yang merekam aktivitas elektrik (kelistrikan) jantung pada waktu tertentu. Pemeriksaan EKG ini dapat menunjukkan apabila terdapat gangguan irama, ancaman serangan jantung, dan perubahan struktur jantung.

Sayang aku engga bisa motret-motret alat EKG ataupun kabel-kabel yang terpasang di sekujur tubuhku. Karena selama EKG ini, semua logam harus dilepas. HP pun ikut disingkirkan. Hiks. Ini foto elektrokardiograf yang aku ambil dari sini.

elektrokardiograf

Dan ini hasil print-print-an alat tersebut.

hasil pemeriksaan EKG-ku

Hasil dari semua pemeriksaan di atas adalah : normal. 

Lha, jadi aku kenapa bisa sesak napas kayak gini?

Dokter menjelaskan bahwa pasien yang mendapat obat-obatan hormonal memang bisa mengalami hal-hal seperti yang aku rasakan. Pada beberapa kasus yang parah, pasien harus menjalani rawat inap di RS. Jadi, perubahan hormonal yang dialami oleh tubuh turut menjadikan asam lambung meningkat. Hal itu mengakibatkan sesak napas. Riwayat asma yang aku punyai turut andil  dalam memperparah sesak napas tersebut.

Selanjutnya, suster mendorong peralatan inhalasi ke dalam kamar. Saatnya diuap, seperti yang diminta oleh Dokter Anggia. Aku diberi sebuah benda berbentuk corong yang dari sana mengeluarkan uap. Alat tersebut ditempelkan ke hidung. Selanjutnya aku diminta bernapas lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut. Terapi penguapan ini dilakukan sekitar 10 menit. Uap akan otomatis tidak keluar lagi setelah air yang ada di dalam benda tersebut habis. Kabel yang menghubungkannya dengan peralatan inhalasi  juga akan terlepas dengan sendirinya.

peralatan inhalasi

corong untuk terapi penguapan

Setelah diuap, dokter umum tadi masuk kamar lagi. Beliau menjelaskan bahwa beliau telah berdiskusi dengan Dokter Anggia melalui telepon. Beliau akan memberi resep obat maag untuk lambungku walaupun aku tidak memiliki riwayat penyakit maag. Selain itu ada juga obat untuk mengatasi rasa mual. Saat ini, aku akan diberikan suntikan yang katanya untuk menurunkan asam lambungku.

Obat yang disuntikkan ke aku bernama Gramet. Suntikannya engga langsung dilakukan dengan menusukkan alat injeksi ke lenganku, namun dengan bantuan sebuah selang. Aku telat buat ngambil gambarnya. Padahal aku udah bilang ama perawatnya kalo mau moto suntikanku. Dia bahkan udah nawarin buat motoin juga. Tapi lha kok alat injeksinya udah kadung dicopot. Ya sudahlah...

alat injeksi tersambung di ujung plastik berwarna kuning itu

Selesai disuntik, aku minta ijin untuk menumpang Sholat Ashar disana. Kemudian aku keluar dari IGD, menuju kasir. Saatnya membayar. Jadi, berapa yang harus aku bayar untuk perawatan di IGD ini? Totalnya adalah Rp 947.500,- yang terdiri dari :
Jasa dokter Rp 235.000,-
Pemakaian kamar (< 3 jam) Rp 100.000,-
Pemeriksaan penunjang Rp 355.000,- 
(terdiri dari pemakaian oksigen, inhalasi, alat monitor emergency, alat EKG, dan biaya umum RS)
Pemakaian alat, obat, dan bahan Rp 257.500,-
(termasuk di dalamnya 1 ampul Gramet Injection)

Tak lupa petugas di kasir mengembalikan kantong belanjaan yang tadi aku titipkan. Oya, untuk obat-obatan yang tadi diresepkan, sayangnya persediaan di apotek RSU Bunda lagi kosong, jadi aku diminta ke RSIA Bunda untuk membeli obatnya. Baiklah... Aku pun menuju apotek RSIA Bunda.

Obat yang diresepkan adalah Propepsa 100 ml seharga Rp 70.100,- yang merupakan obat maag dan berupa sirup rasa stroberi. Enak deh, rasanya. Andai semua obatku seperti ini :p
Obat satunya adalah Mediamer B6 (10 tablet) seharga Rp 37.000,- untuk mengatasi rasa mual yang sering timbul.

Aku pun pulang. Sebenarnya, napasku belum balik seperti normal. Masih pendek-pendek gitu. Tapi lumayan lah, daripada tadi siang.

Keesokan harinya lumayan menegangkan. Di hari Sabtu sore yang cerah itu, sesak napasku kambuh lagi. Ratna en Ivna yang kebetulan ada di rumah merubung di sekitar tempat tidur Ratna (kebetulan aku lagi maen ke kamar Ratna). Mereka sempat memaksaku kembali ke IGD, tapi aku engga mau.

Akhirnya Ratna browsing-browsing. Alhamdulillah, dengan sedikit teknik yoga, sesak napasku mulai mereda. Meski demikian, tak urung aku merasa sedikit takut kalo hal seperti ini terjadi lagi. Aku kembali mengirim sms kepada Dokter Anggia. Disarankan untuk membeli Bricasma yang merupakan obat untuk asma. Harganya sekitar Rp 27.000,- Selain itu, aku yang biasanya tiap hari juga mengonsumsi Natavit dan Folic Acid sesuai anjuran Dokter, disuruh memilih salah satu aja.

Pada saat sesak napasku kambuh itu, Ratna en Ivna jadi menyadari kalo perutku sekarang gede banget. Kayak bengkak gitu. Kalo tidur, jadi berasa engga nyaman juga jadinya. Karena penasaran, lagi-lagi aku mengirim sms ke Dokter Anggia. Ternyata jawabannya adalah aku terkena OHSS (Ovarium Hiperstimulation Syndrome).

Berikut penjelasan mengenai OHSS yang aku dapat dari sini.
OHSS adalah suatu kondisi medis yang merupakan komplikasi dari terapi kesuburan seperti injeksi hormonal dari HCG untuk merangsang ovulasi guna menghasilkan sel telur. Kondisi ini terjadi ketika ovarium bereaksi berlebihan terhadap terapi kesuburan, menjadi bengkak dan nyeri. Orang yang masih muda (di bawah 35 tahun) atau menderita PCOS memiliki resiko yang lebih besar untuk terjadinya kondisi ini. Kebanyakan, gejala OHSS timbul dalam 10 hari setelah dimulainya pemberian obat-obatan untuk merangsang ovulasi. Beratnya gejala bervariasi antar individu. OHSS ringan biasanya tidak memerlukan perawatan dan dapat diatasi dengan minum lebih banyak air putih untuk mengurangi rasa nyeri. Kasus sedang sampai berat mungkin memerlukan pengobatan seperti penghilang rasa sakit atau terapi cairan intravena. OHSS dapat menjadi komplikasi yang serius dari pengobatan kesuburan karena hal ini berpotensi untuk menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa, seperti gagal ginjal dan pecahnya kista ovarium, yang dapat menyebabkan perdarahan organ dalam yang hebat.

Gejala-gejala yang mungkin timbul dari OHSS ini meliputi diare, mual, muntah-muntah, pertambahan berat badan yang tidak diinginkan, perut kembung, pusing, rasa sakit pada panggul, sakit perut, dan sesak nafas. Beberapa gejala memang seperti gejala maag, ya.

Buat temen-temen yang lagi menjalani terapi kesuburan, jangan takut dulu. Kasus OHSS ini terbilang jarang, kok. Aku pernah baca di blog-nya seorang ibu yang mengikuti program bayi tabung (IVF). Dari 10 orang yang mengikuti IVF, hanya 1 yang terkena OHSS.

Untungnya lagi, OHSS yang menimpaku ini masih tahap ringan. Kata dokter, penanganannya cukup dengan memperbanyak makan putih telur, minimal 2 butir sehari. Loh, apa hubungannya ya?  Jadi, pada kasus OHSS ini, terjadi akumulasi cairan di perut. Cairan ini bisa sampai ke dalam rongga dada dan mengakibatkan sesak napas. Karena kekurangan protein, ginjal tidak bisa bekerja maksimal sehingga menyebabkan cairan ini tidak banyak dikeluarkan melalui urine. Itulah mengapa putih telur sebagai sumber protein sangat disarankan untuk dikonsumsi. Kalau saja aku rajin mengonsumsi putih telur ini dari awal persiapan inseminasi, resiko OHSS bisa diminimalisir. Tapi ya sudahlah...

Oya, engga ada larangan dari Dokter untuk mengonsumsi kuning telurnya juga. Oya, telurnya boleh apa saja, dan dikonsumsi dengan cara apa saja. Jadilah beberapa hari belakangan ini, walaupun engga napsu makan, aku memaksakan diri untuk makan telur. Kalo lagi niat, sehari bisa 4 butir loh. Hehehe... Oya, kata Dokter Anggia, kalo mau, aku juga bisa mengonsumsi obat yang namanya Glutrop 2 kali sehari. Glutrop ini merupakan suplemen protein. Karena aku sudah mengonsumsi telur dalam jumlah cukup, tambahan protein sepertinya engga perlu deh *alesan, padahal udah males minum obat lagi* Hasilnya lumayan, napasku udah kembali normal, perut juga engga bengkak lagi.

Tiga hari lagi waktunya test pack, loh. Sampai sejauh ini, aku masih ngerasa suhu badanku di atas biasanya. Katanya itu pertanda baik. Semoga...

6 comments:

  1. ya ampuuuuun mba istiiiiiiiii perjuanganmu rrruar biasa...aku lg baca2 blogmu mba hahahaa...jd g sabar pgn tau hasilnya besok..kabarin yaa..kisskiss

    ReplyDelete
  2. Walah, rani...ini masih jauh lah, dari luar biasanya perjuangan melahirkan, hehe...
    Hasilnya akan segera diposting. Ditunggu yaaa ;)
    *kisskiss balik*

    ReplyDelete
  3. Yani Nurmala Dewi6 November 2013 at 16:12

    Hai isti...kiss n big hug..ini Yani alias bu agung..still remember me..:-) Baru sekarang comment disini...silent reader. Saluuuut banget deh sama perjuangan isti buat jadi Ibu..ngerasa aku ini ga ada apa-apanya deh..moga Allah melancarkan usaha dan perjuangan isti buat jadi seorang ibu...:-)..

    ReplyDelete
  4. Don't worry mba yani cantik...Liat nama lengkapnya mba aja aku udah inget banget orangnya, kok ;)
    Wah, termasuk SR juga-kah? Senangnya...jadi terharu :'(
    Walah mba, aku malah ngerasanya perjuangan sampai saat ini engga ada apa-apanya dibandingkan perjuangan para ibu melahirkan baby-nya. Masih kalah jauh mba :)
    Makasiy doa dan semangatnya, mba *kiss n big hug*

    ReplyDelete
  5. Yani Nurmala Dewi7 November 2013 at 14:48

    Hehehe...salam dr mas agung, aku cerita ke dia kalo aku suka baca blog mu..ga nyangka lo isti punya bakat nulis..trs br tau jg kl pinter nyanyi..xixixixi.....

    ReplyDelete
  6. Waalaikumsalam en salam balik buat mas agung, ya, mba. Hahaha, ini namanya bakat tho, mba? Jadi malu... Kalo nyanyi bukan pinter, mba. Tapi emang saya yang kepedean. Hihihi... Tapi makasiy banyak compliment-nya :-* Xixixi...

    ReplyDelete