Wednesday, 16 October 2013

Rafting Ceria

Mengambil tempat di Cibalung Happy Land Kab. Bogor, acara rafting kali ini lumayan dinanti-nantikan oleh para pegawai. Sebelum rafting yang ini, aku udah pernah rafting siy, walo cuman sekali. Itupun udah lama banget, jaman aku masih kerja di Pasuruan 6 tahun yang lalu.

Persiapan pertama yang kita lakukan adalah mengenakan pelampung dan helm serta mengambil satu dayung. Horeee, ada pelampung warna pink! Aku en Ivna langsung hepi. Eh, ada yang motoin kita berempat :D

we're ready ^^

Trus kita ngajakin Budi buat gabung poto bareng.

itu kenapa helm aku nutupin muka en engga ada yang ngasih tau :'(

1 tim rafting terdiri dari 5 ato 6 orang. Nantinya tiap tim juga akan ditemani oleh seorang pemandu. De Lima jadi 1 tim dunk, pastinya! Kita dapet 1 bintang tamu yaitu Mas Heri. Emm, sebentar, melihat profil para personil tim kita, kekuatan kita sepertinya dipertanyakan deh. Iya siy, emang ada Budi yang badannya paling gede dibanding kita yang laen. Tapi secara naik kereta gantung aja dia engga berani, jangan-jangan di air nanti juga agak dipertanyakan performance-nya. Waduh...

Engga papa! Kita tetep kudu semangat! Jadi, gimana kalo kita ngarang yel-yel dulu aja? Tapi karena tim lain engga ada yang kepikiran buat bikin yel-yel, kita urungkan saja niat mulia ini. Daripada tim kita disemprot ama instruktur yang lagi heboh menerangkan aba-aba di air, cara mendayung, de el el. Semacam safety briefing lah...

coba cari dimana ivna :D

Akhirnya, tiba saat kita berangkat! Perjalanan ke tempat rafting dilakukan dengan naik pick up selama sekitar 20 menit.

Sesampai di lokasi rafting, kita dipilihkan seorang pemandu. Namanya Mas Topik. Kita mengawali rafting kita dengan menciprat-cipratkan air ke peserta lain! Yang mana jelas memancing peserta lain untuk membalas dengan lebih kejam. Jadi belum-belum tim kita udah basah aja bajunya... #gagalcantik

Trus Mas Topik niy ternyata bete kalo anggota timnya becanda-becanda mulu. Jadi kita dimarahin. Hiks... Padahal pemandu tim lain malah engga kalah heboh kalo udah urusan ciprat-cipratan air. Ini sungguh tidak adil! Feeling kita di awal udah engga enak aja deh, rasanya.

Pada saat berangkat, di belakang tim kita masih ada beberapa tim lain. Namun entah bagaimana, tim kita akhirnya jadi yang paling buncit. Padahal kita udah mengerahkan segenap daya upaya. Kalo ngeliat tim lain, mereka nyante-nyante aja. Ngayuh 1 menit, tolah-toleh ngeliat pemandangannya 15 menit. Lah kita kok sepertinya dipaksa jadi kuli dayung ama Mas Topik. Bandingkan 2 perahu di gambar ini. Penumpang perahu depan ketawa-ketawa, penumpang perahu kita mukanya udah melas maksimal.

terlihat kesenjangan disini

Walo melas maksimal, kalo ada kamera dalam radius 5 meter, kita tetep mupeng buat dipoto.

woiii, potoin kita dunkkk!!!

duh, tim tetangga kok poto-potoan mulu siy? *mupeng maksimal*
 
hore, kameranya deket...ayo bergaya!!!

yes, akhirnya dipoto juga :D

Di tengah perjalanan, kami beristirahat sejenak. Panitia udah nyiapin goreng-gorengan en bandrek buat sekedar mengisi perut.

udah basah smuaaa

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami bertekad : engga boleh jadi yang paling buncit lagi! Apa daya, tekad yang kuat tidak dibarengi oleh tenaga yang sepadan. Jadilah kami menjadi tim yang lagi-lagi paling buncit. Engga sekedar paling buncit, musibah pun melanda. Satu-persatu perahu kami meminta korban. Eh, kok jadi berasa di setting film horor siy. Oke, boleh dibaca dulu lanjutan ceritanya.

Tidak berapa jauh dari tempat istirahat, Ratna mengaku udah engga sanggup lagi mendayung. Jadi kita berinisiatif menitipkannya ke perahu tetangga. Perahu tetangga itu kebetulan personil cewenya cuma satu. Trus kelima personil lainnya keliatan tangguh gitu. Jadi ketambahan 1 personil yang engga mendayung engga memberi pengaruh yang signifikan.

Dari perahu tetangga, Ratna meneriakkan semangat buat kami  yang sedang berjuang. Tapi lama-lama ternyata dia engga tega ngeliat teman-temannya yang lemah-tapi-unyu ini berjuang sendirian. Jadilah dia minta balik ke perahu kita. Trus kita bareng-bareng mendayung lagi.

Setelah Ratna, korban-korban lain berjatuhan. Berjatuhan disini dalam arti sebenarnya, loh, yaitu jatuh ke air. Dimulai dari Ivna. Melewati jeram pertama, perahu kami berhasil melaluinya. Namun entah bagaimana, Ivna bisa terlempar ke luar perahu. Yah, paling engga tragedi ini meningkatkan kepercayaan dirinya. Karena kesimpulannya adalah dia ternyata cukup ringan untuk bisa terlontar dari posisi duduknya. Hehehe... Aksi penyelamatan pertama pun dilakukan. Oleh siapa? Ya oleh Mas Topik, lah. Kita berenam siy cuma bisa bengong doang. Hihihi...

Korban selanjutnya langsung rombongan. Melewati jeram kedua, lagi-lagi entah bagaimana, tiba-tiba aku, Yofan, en Ratna udah jatuh aja ke dalam air. Para saksi mata yang berada di perahu di depan kita menyatakan bahwa kejadiannya berlangsung cepat dan sedikit menyeramkan. Bagi kita yang jatuh, apa yang kita rasakan? Hmm, sebenarnya jatuh ke dalam air itu seru, loh! Yang penting kita engga panik aja. Lagipula kita kan udah pake pelampung. Jadi, pasti aman. Walo pastinya ada rasa kaget yang menyebabkan sedikit banyak air sungai tak sengaja terminum.

Tapi buat aku pribadi, jatuh kali ini merupakan tamparan keras bagi diriku. Dikarenakan pada saat aksi penyelamatan dilakukan, ternyata aku paling susah diangkat ke atas air. Kali ini engga cuma Mas Topik yang heboh ngangkatin kita. Tapi juga melibatkan tim SAR yang Alhamdulillah berada engga jauh dari perahu kami. Aku juga heran, kenapa tubuhku bisa seberat itu. Hiks... *kepercayaan diri terhempas ke titik nol*

Aku sempat bertanya kepada Mas Topik, kenapa perahu yang lain engga terbalik di jeram kedua. Katanya, posisi perahu kita yang melintang yang menyebabkan terjadi ketidakseimbangan yang kemudian berujung pada petaka. Oke, Mas Topik engga ngomong segitu panjang, tapi aku aja yang nambah-nambahin biar lebih dramatis :p

Tragedi terakhir terjadi di jeram ketiga. Kali ini Mas Heri yang jatuh dan langsung disusul oleh Ivna. Entah mengapa sepertinya ada kekuatan tarik-menarik yang sangat kuat antara Ivna dengan air sungai di hari itu. Jatuhnya Ivna kali ini di deket bebatuan. Serem deh, ngeliatnya. Kita udah kuatir dia kenapa-kenapa. Waktu akhirnya dia diselamatkan oleh tim SAR, dia bilang dia emang ngerasa kalo kepalanya terantuk batu. Untung pake helm.

Setelah Ivna diselamatkan, aku teriak-teriak heboh, "Mas Heri engga ada!" Di sekeliling perahu kami, sosok Mas Heri engga nampak. Alhamdulillah tak berapa lama, kepalanya muncul di air. Syukurlah... Walo mukanya keliatan sangat shock, tapi Mas Heri baik-baik saja. Berdasar pengakuannya, ternyata Mas Heri tadi sempat beberapa saat berada di bawah perahu. Wew, pantesan mukanya keliatan shock banget gitu.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, Ivna diungsikan ke perahunya tim SAR, sedangkan Mas Heri dimutasi ke perahu tim lain. Supaya tim lemah-tapi-unyu kami tidak semakin merana, ada 1 penghuni perahu tetangga yang masuk ke tim kita. Anehnya, bapak satu ini mengakui kalo di perahu kita ia merasa benar-benar bekerja keras, engga kayak di perahu sebelumnya. Hmm, engga tau deh, faktor apa yang bikin kayak gitu. Mungkin ada semacam kutukan yang menimpa perahu kami :(

Jadi, gimana akhir ceritanya? Hmm, kali ini kita berpedoman pada pepatah "biar lambat asal selamat". Jadi walo pelan-pelan dan bersahaja, Alhamdulillah kami tetap sampai di garis finish, setelah menempuh perjalanan sejauh 11 km selama kurang lebih 3 jam. Pastinya sampai titik akhir pun kami tetap dipaksa bekerja keras.

Kembali ke basecamp, kita duduk di bak belakang pick up sambil diguyur ujan deres. Walo udah basah kuyup, kita tetep hepi en nyanyi-nyanyi. Lagu "Hujan" dari utopia kayaknya cocok mengiringi perjalanan pulang kami.

Aku selalu bahagia saat hujan turun
Karena aku dapat mengenangmu 
Untukku sendiri
Ooohhh.. ooo

Dan beginilah penampakan kita waktu nyampe basecamp.

basah kuyup tapi tetep ceria

Oya, berita tentang tim lemah-tapi-unyu yang sebagian besar anggotanya kecebur itu ternyata sudah menyebar ke telinga peserta lain. Banyak yang minta diceritain kronologis kejadiannya. Hmm, harusnya kita ngegelar konferensi pers aja yak. Hihihi...

7 comments:

  1. Istiii...
    ini kok cerita nya horor amat siiiih...
    Syereeeeeem...

    aku sepertinya ogah ah main rafting-rafting an kayak giniiii...
    Dulu cuman pernah main arung jeram di dufan doang sih...hihihi..*cemen*
    Tapi emangnya gak pake kayak sabuk pengaman gitu yah?
    Supaya kita tetep nempel di perahu nya gituh?
    *patokannya tetep arung jeram dufan*...hihihi...

    ReplyDelete
  2. etapi untung aja gak ada yang luka yah...
    dan semuanya berakhir hepi ending...

    tapi tetep aja aku mah ogah aaah...
    *sayah memang cemen*

    ReplyDelete
  3. Arung jeram yang beneran emang engga pake sabuk pengaman, Bi, engga kayak di Dufan. Yang bikin seru emang jatuh-jatuhannya. Hehehe... Yang penting engga ada yang luka, Alhamdulillah...
    Seru kok, Bi, beneran deh! Eh, tapi jangan-jangan yang pada baca tulisan aku di atas jadi pada parno ama arung jeram yak. Haduh...bukan maksud saya menakut-nakuti :'(
    Pokoknya suatu saat Bibi harus mencobanya! Go, go, go! *bergaya ala cheerleader*

    ReplyDelete
  4. Emang seru banget yah kalo rafting, melewati jeram dan pastinya menikmati alam sekitar.
    Aku pertama kali dan mudah2an sih bukan yang terakhir *apa sih* rafting tahun 2007 dan belum pernah lagi *padahal pengen*,'

    ReplyDelete
  5. Hahaha, udah lama juga tuh, mba. Perlu segera rafting lagi biar fresh. kalo mau rafting, ajak-ajak ya, Mba Dian. Hihihi...

    ReplyDelete
  6. jilbab qt ttp nge-hits ya mb walau diterpa arung dan jeram...hahahahaa

    ReplyDelete
  7. Hahaha....iyaaa, engga kayak penerawangannya dhewi yang bilang jilbab kita bakal copot2. Hehe, jadinya dipoto tetep keren yak :D

    ReplyDelete