Thursday, 17 October 2013

Tujuh Kali Suntikan

Dari tadi pagi, paling engga udah ada 5 orang nanyain hal yang sama, "Loh, kamu bukannya ke Bogor ya?" Dari mulai sesama pegawai sampe ke mas-mas penjaga koperasi. Hmm, ternyata emang aneh ya, kalo lagi ada acara kantor trus aku engga ikut. Benernya dari awal aku ditunjuk jadi panitia (yaitu Sie Acara, seperti biasa), aku udah bilang ke para petinggi kantor kalo aku engga bisa ikut. Waktu rapat awal, aku memang menyempatkan datang. Tapi disitu pun aku sudah mengkonfirmasi kalo engga bisa hadir. Aku pikir, dengan aku engga ikut bakal digantikan oleh rekan lain yang satu bidang. Ternyata engga. Kata seorang temen, "Kamu kan tidak tergantikan, Mba." Eciyeee, romantis amat! *abis itu ditimpukin orang sekantor*

Menurut itung-itungan dokter di awal aku memutuskan untuk inseminasi, tindakan insem itu sendiri bakal dijadwalkan tanggal 14 Oktober kemarin. Namun karena sampai suntikan ketiga, responnya masih kurang, akhirnya ditambah 3 lagi. Masih kurang oke juga, nambah 1 lagi yang adalah sudah dilakukan kemarin lusa, yaitu hari Selasa pas Idul Adha. Alhamdulillah, 7 menjadi angka keberuntunganku. Keesokan harinya setelah mendapat suntikan ke-7, hasil USG tv-nya sesuai dengan harapan. Cerita lebih lanjut ada di postingan berikutnya.

Seperti sudah aku sebutkan di postingan sebelumnya, cairan injeksi yang disuntikkan bernama Puregon. Waktu penyuntikan tetap. Misalnya ada pergeseran, maksimalnya adalah 2 jam.

perlengkapan perang
Berikut ini penjelasan mengenai Puregon yang aku dapat dari sini.
Kandungan :
FSH rekombinan.
Indikasi : 
Pengobatan infertilitas pada wanita dalam situasi berikut : anovulasi pada wanita yang tidak responsif terhadap pengobatan dengan Klomifen Sitrat, hiperstimulasi ovarium terkontrol untuk menginduksi perkembangan folikel ganda pada program reproduksi yang dibantu secara medis.

Efek samping :
Hiperstimulasi ovarium, memar, nyeri, kemerahan, bengkak, dan gatal-gatal, kehamilan ektopik (kehamilan di luar rongga rahim), kehamilan ganda (kembar), arterio-tromboembolisme.

Tentang Klomifen Sitrat (Clomiphene Citrate - CC) yang ada pada bagian indikasi, obat ini menjadi obat pilihan utama untuk pasien PCOS.  Meskipun manfaat CC sudah di percaya sejak lama, namun ada sedikit kerugian penggunaan obat ini yaitu CC akan mempengaruhi penebalan endometrium saat ovulasi yang berarti mempunyai efek negatif untuk kesuburan.
Pada indikasi di atas, tertulis bahwa Puregon merupakan pengobatan untuk wanita yang tidak responsif terhadap pengobatan dengan CC. Pengobatan dengan CC ini memang sudah pernah dicobakan ke aku dalam beberapa resep, dengan nama Ofertil dari Bernofarm. Merek lain yang beredar di Indonesia adalah Blesifen, Fensifros, Fenthilphen, Profertil, Provula, dan Derophene (sumber : buku "Infertil" by Vitahealth, Gramedia).
Di awal aku memulai proses inseminasi ini pun, aku sudah meminum Ofertil, tetapi hasilnya memang nihil. Btw, efek samping dari pemberian CC ini adalah dapat menimbulkan gangguan pada saluran pencernaan, ruam kulit, kemerahan pada wajah dan leher yang disertai dengan rasa panas, pandangan kabur, sakit kepala, insomnia, pembesaran ovarium yang berlebihan dan pembentukan kista ovarium, kehamilan kembar (sumber dari sini).

Lebih lanjut tentang Puregon, aku dapat dari sini.
FSH adalah gonadotropin yang memiliki efek langsung terhadap ovarium untuk proses pembentukan folikel dan sel telur.  Pada awalnya gonadotropin diperoleh dari hasil ekstraksi senyawa dari urin wanita menopause yang kaya hormon tersebut.  Pada perkembangannya hasil ekstraksi tersebut dipurifikasi untuk mendapatkan hormon yang lebih murni (Puregon).
Hormon ini diberikan dalam bentuk suntikan  intramuskuler atau subkutan di perut,  dan dosis menyesuaikan dengan tujuan seberapa banyak telur yang ingin dihasilkan. Semakin banyak pemberian maka semakin banyak telur yang akan didapatkan.  Namun pemberian dengan dosis tinggi (superovulasi) harus dengan monitoring ketat sehubungan dengan adanya kemungkinan terjadinya OHSS yaitu sindroma ovarium hiperstimulasi, di mana pasien dapat jatuh ke dalam keadaan emergensi dan dapat berakibat fatal.

Aku udah cerita kalo suntikan Puregon ini rasanya perih. Awalnya aku mengira rasa perihnya meningkat secara eksponensial dari hari ke hari. Secara pada hari pertama, aku cukup tiduran selama 1 menit setelah disuntik. Pada hari kedua, jadi 4 menit. Hari ketiga jadi 10 menit. Untungnya dugaanku engga bener. Cos nyatanya pada hari keempat, aku cukup baring-baringan 5 menit saja. Ternyata rasa perih yang aku rasain naik-turun, walo engga jelas juga faktor apa yang mempengaruhinya.

Urusan suntik-menyuntik yang harus dijalani tiap hari ini ternyata juga engga selalu berjalan lancar. Pada hari kedua, deket kantor kebetulan lagi ada demo. Jalanan jadi macet parah. Arus lalu lintas di depan kantor nyaris engga bergerak. Daripada telat disuntik, aku memilih naik ojek ke RS Bunda. Nyampe RS, tukang ojeknya aku minta buat nungguin. Aku bilang, aku cuma suntik doang, jadi engga nyampe setengah jam. 

Aku mendatangi suster jaga trus ngasihtau kalo hari ini aku ada jadwal suntik jam 15.30 di lantai 2. Yang ada, para suster itu bingung. Kata mereka, di lantai 2 engga terima titipan obat. Kalopun ada yang nitip, biasanya di apotek. Lha, aku jadi ikut bingung juga. Secara kemarin susternya sendiri yang nawarin buat aku nitip obat disana. Setelah bertanya sana-sini, Alhamdulillah engga ada masalah. Obatku memang dititipin di kulkas lantai 2, dimana biasanya memang engga pernah ada pasien yang nitip disitu. Ya sudah, anggap saja saya pasien spesial. Hihihi...

Balik ke kantor, jalanan masih macet. Yang ada, tukang ojek mencari jalan alternatif dengan naik-naik ke trotoar. Masalahnya, beberapa trotoar di daerah Cikini dihiasi oleh tanaman bugenfil. Jadilah beberapa kali kita harus merunduk untuk menghindari juntaian batang-batang tanamannya.

Jadi ya, kalo insemnya niy berhasil (aminnn...), trus anakku ntar udah gede, aku bakal cerita ke dia kalo buat persiapan bikin dia, pake acara menerobos tanaman di jalanan. Eh, sebentar deh, kenapa konotasinya jadi negatif yak. Engga jadi diceritain deh, ke dia. Hahaha...

No comments:

Post a Comment