Friday, 15 November 2013

Keep On Believing

Awalnya tulisan ini berjudul "Menanti Hasil (Masih di IGD)". Sampe kemudian setelah di-posting, aku baru ngeh kalo ada yang salah dengan judulnya, secara di IGD-nya engga sampe 2 jam, gitu, trus dipindah ke kamar inap. Berarti waktu nulis, lagi agak lemot :p Setelah nyadar sendiri kalo ada yang aneh dengan itu judul, aku ganti aja judulnya, tapi judul sebelumnya masih terabadikan di link alamat tulisan :p. Selanjutnya mohon dimaklumi juga kalo tulisan ini terkesan acak adul, karena udah langsung aku posting tanpa aku baca ulang. Bete sendiri gara-gara sempat menulis ulang banyak paragraf cos lupa belum menekan save tapi udah buka menu lain di Tab.

Hari kedua di RS, tangan kiriku yang diinfus udah menjadi sangat kaku rasanya. Perasaan waktu aku kena DB 5 tahun lalu dan harus dirawat 10 hari, pake infus juga, rasanya engga kaku-kaku amat. Penempatan jarum infus yang berbeda ngaruh, kali, ya? Btw, aku diinfus bukan karena kekurangan nutrisi. Tapi supaya penyerapan obatnya lebih maksimal. Yang dimasukkan adalah cairan infus bercampur Duvadilan. Awalnya hanya 8 tetes per menit. Dikarenakan aku punya riwayat asma, jadi dikhawatirkan akan membuat jantung berdebar kalo kebanyakan. Makin lama dosisnya ditambah, sampai menjadi 30 tetes per menit.

Ngomong-ngomong tentang jarum infus, pemasangan pertamanya gagal. Dari awal aku merhatiin terus prosesnya. Si mas perawat ampe bilang gini, "Engga usah diliatin Bu, nanti malah kerasa sakit." Aku jawab kalo aku biasanya emang ngeliatin siy (aslinya malah plus moto-motoin juga :p). Pada suatu saat, jarumnya engga bisa masuk lebih dalam walo udah agak dipaksa.

Perawat : "Sakit, Bu?"
Aku : "Engga. Itu kenapa kok engga bisa masuk semua?"
Perawat : "Ibu, ternyata ini ketemu percabangan di pembuluh darah. Jadi harus dicabut dan kita cari pembuluh darah lain."
Waktu jarum suntiknya dicabut, ternyata bengkok.
Perawat : "Ini Bu, sampai bengkok gini."
Aku : "Lha berarti waktu masnya tadi nanya sakit apa engga, harusnya saya memang ngerasa sakit, ya?"
Perawat : "Iya, Bu."
Aku : "Ya mungkin saya udah kebanyakan disuntik jadi kalopun sakit sampe engga ngerasa, Mas."
Perawat : "..."

Malam pertama aku di RS, insomku kumat. Aku baru bisa bobo jam 3. Trus jam 4.45 bangun untuk sholat Subuh. Aku menekan bel untuk memanggil suster. Ternyata aku disuruh tayamum aja biar engga turun dari bed. Untuk pipis pun, harusnya aku pake pispot. Tapi cuma sekali doang aku pake pispot. Soalnya malah nyusahin suster gara-gara aku langsung minta spreinya diganti. Hihihi... Walopun para suster selalu protes kalo aku minta ke toilet, aku tetep ngeyel #pasienrewel

Walo pake infus itu bikin ribet karena kudu bawa-bawa tiang ke toilet, tapi pada dasarnya dirawat di RS itu enak-enak aja. Makanan disediain, engga usah mikir mau makan apa. Apalagi kalo kamarnya nyaman, berasa di hotel deh :D

Dokter umum visit sekitar jam 9. Setelah dokter pergi, suster yang menemaninya menyempatkan untuk mengobrol denganku. Sang suster memberi pertanyaan yang selanjutnya menjadi pertanyaan yang paling sering muncul selama aku di RS yaitu : Sendirian, Bu? Engga ada yang jagain? Suaminya dimana? Makassar? Wah, jauh, ya. Ortu ato mertua juga engga bisa kesini? Oh, jauh juga?

Mungkin dikarenakan jawaban dari pertanyaan di atas pada intinya adalah aku sendirian, sang suster yang sepertinya merupakan penanggung jawab lantai di pagi itu jadi memutuskan untuk menemaniku sejenak. Beliau memberi semangat, mengajak positive thinking atas kondisi baby yang memang belum jelas. Plus menjelaskan bahwa kondisi kehamilan tiap wanita memang berbeda-beda. Dalam kondisiku, bisa jadi memang harus bed rest. Engga boleh kerja, engga boleh duduk terlalu lama, engga boleh jalan lama-lama (walo cuma 15 menit kost-kantor pagi-sore). Kedatangan suster tadi membuatku engga terlalu kesepian lagi.

Siang harinya tamu datang silih berganti. Pada jam istirahat kantor, Ivna en Ratna dateng buat nemenin. Trus ada saudaranya Mr. Banker juga mampir. Disusul temen-temen dari 2 kantor yang satu gedung sama aku (masih seinstansi siy). Ada Mba Ratu, Mba Nimang, Ratih, Astri, en Susan. Kemudian Budi en Mba Arta muncul menggantikan posisi 5 orang terakhir. Rame deh... Plus bikin kulkas jadi penuh dengan buah plus susu. Plus ada cake juga. Pulang dari sini, aku jualan buah kayanya bisa tuh :p

Jam 2.30, Dokter Anggia datang untuk melakukan USG. Sayang, seperti 10 hari lalu saat USG terakhir, belum keliatan apapun. Akhirnya dilakukan cek darah pada jam 3.30.

Menanti hasil cek darah ini ternyata lebih deg-degan dibanding menunggu waktu yang tepat untuk test pack seperti beberapa waktu lalu. Setiap ada suster yang masuk kamar, aku menanyakannya. Pertama kepada suster penanggungjawab lantai yang shift sore ketika beliau masuk kamarku di sore hari. Katanya hasilnya belum ada. Beliau, seperti juga suster penanggung jawab lantai shift pagi mengajakku mengobrol beberapa saat waktu tau aku sendirian aja tanpa ada yang jagain.

Ketika aku memanggil suster karena infusku habis jam 7, lagi-lagi aku menanyakan hasil tesku. Katanya udah ada hasilnya, sebentar lagi akan dibawakan. Tapi sampai nyaris 1 jam, engga ada lagi yang masuk kamarku. Aku sampe curiga kalo ada kabar buruk yang disembunyikan dariku.

Sampe akhirnya di malam hari saat pergantian shift suster jaga yang selalu dilakukan dengan perkenalan suster pengganti oleh suster yang sebelumnya bertugas pada jam 7 pagi, jam 2 siang, en jam 8 malam. Lagi-lagi aku menanyakan hasil tesku. Suster menyebutkan bahwa nilai betaHCG-ku 2500an. Alhamdulillah, Babyndut (yup, aku en Mr. Banker memanggilnya demikian) masih kuat dan bertahan.

Oya, malam itu aku ditemani oleh Ratna. Dia datang jam 7.30 sambil bawa payung. Dia engga bawa motor cos katanya lagi ujan deres. Katanya dia juga udah bawa baju batik buat ngantor besok karena rencananya mau langsung berangkat dari RS. Ratna rela bobo di kursi berselimutkan kain bali. Lucky me, to have a bestfriend like her.

Walo gara-gara Ratna nginep RS, aku jadi kasian juga ngebayangin Ivna cuma berdua ama Baby Nizam di rumah. Dia sampe nulis status yang intinya berharap si "mbak" (penghuni keenam di kontrakan kami) engga mengganggunya malam itu.

Malam kedua di RS, insomniaku engga kumat. Alhamdulillah...

Keesokan harinya, Dokter Anggia visit jam 10. Kebetulan beliau ada jadwal tindakan, jadi bisa datang lumayan pagi ke kamarku. Beliau mengatakan bahwa dengan nilai betaHCG-ku yang 2500an itu, saat USG kemarin seharusnya kantong kehamilan sudah terlihat. Namun yang terlihat kemarin adalah rahim udah tebel banget. Plus ada satu bulatan kecil di saluran telur. Sambil menunjukkan print USG kemarin, Dokter menjelaskan beberapa kemungkinan yang bisa terjadi.

Kemungkinan pertama, bulatan itu adalah janin yang tumbuh di luar rahim. Bila dibiarkan, karena ia tidak berada di tempat semestinya yaitu rahim yang bisa melar, pertumbuhannya bisa merobek tempatnya menempel, sehingga ia harus dikeluarkan. Flek-flek yang terjadi padaku bisa jadi merupakan dinding rahim yang meluruh karena engga ada janin di dalamnya.

Kemungkinan kedua, mengingat telurku yang gede menjelang tindakan insem bulan kemarin ada banyak, bisa jadi ada lebih dari satu janin yang terbentuk. Janin pertama ada di luar kandungan, janin kedua ada di dalam, hanya saja sampai saat ini belum terlihat. Bila di kemudian hari, janin pertama ternyata lebih kuat daripada janin kedua, proses pengeluaran janin pertama akan mempengaruhi keberadaan janin kedua. Kemungkinan besar, janin kedua sulit untuk terus bertahan. Biasanya ia akan gugur dengan sendirinya beberapa minggu kemudian, menyusul janin pertama.

Kemungkinan ketiga, bulatan tadi adalah folikel yang belum pecah.

Untuk memastikan kemungkinan yang terjadi, perlu dilakukan observasi lebih lanjut, dengan USG yang akan dilakukan tiga hari lalu. Mengingat sampai saat ini aku engga pernah merasakan nyeri yang sangat di perut, mudah-mudahan kemungkinan janin di luar kandungan tidak terjadi. Pastinya bila suatu saat aku merasakan nyeri itu, aku harus segera ke IGD.

Ketika Dokter Anggia menjelaskan semua hal di atas, aku berusaha keras untuk bersikap biasa saja, nyaris tidak meneteskan air mata. Namun saat Dokter dan suster pendamping menutup pintu kamar, hatiku serasa hancur dan aku seakan engga bisa berhenti menangis.
Saat menceritakan semuanya ke group WA temen-temen SD, mereka memberi semangat. Menghiburku dengan beberapa kisah nyata yang dialami teman maupun diri sendiri.

Satu yang mirip dengan ceritaku adalah cerita dari Dina yaitu ada temannya yang mengalami kemungkinan kedua. Satu janin di dalam rahim, satu janin di luar rahim. Ternyata yang di dalam bisa survive. Bahkan sekarang udah lahir.

Tanpa sadar aku berhenti menangis. Kebetulan saat itu aku menonton The Carrie Diaries. Ada satu kalimat bijak disana. " The point is, sometimes you have to fake it to make it. After a while, what’s fake becomes truth." Aku pun (berpura-pura) menganggap Babyndut berada di tempat semestinya, berusaha bertahan disana. Intinya positive thinking dan afirmasi diri.

Hal serupa pernah dipraktekkan oleh Sari yang divonis blighted ovum. Sampai kehamilan berusia 8 minggu, keberadaan janin tak juga terlihat. Dokter memvonis sebagai blighted ovum dan harus dikuret. Tapi Sari sendiri yakin bahwa baby-nya ada di sana. Dia menghentikan konsumsi semua obat, kecuali madu. Ketika tiba saat USG untuk menentukan jadi-tidaknya kuret, tiba-tiba baby berada di dalam rahim, langsung besar dan keliatan bakal tangan, kaki...

There can be miracles when you believe...

Seorang teman lain, yaitu Ayiek mengulang kembali kata-kata Tieka saat Ayiek terancam keguguran untukku. Fyi, keduanya adalah temen magang di Malang. "Kalo dedeknya mau ikut Mba Isti, pasti dia juga ikut berjuang untuk bertahan kok, Mba..."

Untuk Babyndut, Mamandut en Papandut masih yakin kamu ada en mau ikut kami. InsyaAllah...

Apapun yang terjadi nanti, semua adalah yang terbaik menurut Allah...

14 comments:

  1. Semoga yang terbaik yg tante isti,ayo babyndut selalu ada buat tante isty dan suami,rasanya mau peluk tante isty....pelukkkk

    ReplyDelete
  2. Aminnn.... Makasiy doa dan semangatnya selalu, mak fadlun. Juga pelukan mayanya yang selalu menguatkan *pelukbalik*

    ReplyDelete
  3. Ya Ampun mbak.. jadi sedih saya bacanya.
    Semoga hal-hal buruk tidak terjadi.
    Semoga babyndut kuat & mau bertahan.
    Aamiin Ya Rabb.

    ReplyDelete
  4. Makasiy mba farihah...semoga ya...aminnn...

    ReplyDelete
  5. Bismillah Mak, Allah memberikan yang terbaik utk hambaNya *hug Mak Isti :) *

    ReplyDelete
  6. masih mau di peluk? ini aku kasih pelukan terhangat buat Isty cantik dan babyndut...*hug hug

    ReplyDelete
  7. Mak Isti yang sabar and tabah yah.Allah tau yang terbaik yang kita butuhkan *kecup..peluk* ;')

    ReplyDelete
  8. mbak isti... kuat bangeeettt, baru nemu blog ini hasil googling tentang ASA gara2 kemarin keguguran... dari mbak, aku banyak belajar untuk lebih kuat lagi... aku juga LDR sama suami, merantau juga tanpa da sanak keluarga... Aq di Padang, suami di Medan, ortu di Gresik, mertua di Semarang. di Padang benar2 sendiri, aku malu kalu aku masih sering merasa beraatt, harusnya aku bisa sekuat mbak isti.. Semoga diberikan yang terbaik ya mbak, si babyndut kuat di rahim.. Amin

    ReplyDelete
  9. Istiiiiii...
    aku sediiiiiih...banget bacanyaaa...sediiiiih...dan berkaca kaca :(

    Harus tabah yaaaah...kalo mama nya kuat..InsyaAllah dedek bayi nya pun akan selalu kuat :)
    Aku hanya bisa bantu mendoakan saja, semoga semuanya berjalan lancar dan dirimu & mr. banker selalu diberi kekuatan yaaah :)

    *peyuk jugaaaaaaaa*

    ReplyDelete
  10. Ya ampun, selagi membuat postingan ter-update, baru ngeh kalo banyak komen yang belum dibalas. Maafkan sayaaa *merasa bersalah*

    @Mak Riski : makasiy doanya, Mak. Aminnn... *hug*

    @Mak Dwina : masih, masih, butuhnya tiap hari soalnya #apaseh. Makasiy pelukannya, Mak Dwina... *hug hug*

    @Mak Khalida : insyaAllah Mak Khalida. Hehe, kalo ada temen yg lagi berusaha pny baby juga, saya jadi semangat *kecupdanpeluk*

    @Mba Ratih : wah, kadang saya juga merasa berat, kok, mba. Kondisi kita sama, ya, sama2 jauh dari suami dan keluarga. Ayo kita berjuang sama-sama, Mba Ratih! Kita diberi cobaan karena Tuhan tau kita kuat untuk menanggungnya. Pernah keguguran berarti pernah hamil, jadi pasti bisa hamil lagi! Semoga segera dpt bayi yang sehat, ya, mba :)

    @Bibi Erry : Hwaa, jadi bikin Bibi nangis deh *pukpuk Bibi* InsyaAllah selalu berusaha tabah dan kuat, Bibi. Makasiy atas doanya *peyuk baliiikkk*

    ReplyDelete
  11. Amiiinnn...sama2 ya mbak... iya nih, seperjuangan.. jauh dari suami dan sanak keluarga... lagi berjuang punya dedek juga..Semoga disegerakan dg yg terbaik oleh Allah. Aminn..
    Mbak, qta ada persamaan lagi, sama2 dari jatim, dan kuliah di Malang...wkwkwkkw... ini aq lagi ngikutin cerita mbak dari awal..suka...suka..suka...sometimes banyak yanggg... akuuu bangeeettt...

    yang kuat ya mbak, everything happen for a reason and Allah knows best.. keep smile.. :)

    ReplyDelete
  12. Wah, wah, cerita mana aja yang mba ratih banget niy? Jadi penasaran :D Seneng deh, kalo ternyata banyak kesamaan yang kita alami :)
    Makasiy semangatnya selalu, ya, mba :-*

    ReplyDelete
  13. aku mampir sini isti...hikz.. *pelukkkkkkkkkkkkkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiy udah mampir mak echa... Hugsss..
      Lha, jadi mellow malem2 tuh.

      Delete