Wednesday, 29 January 2014

Pulang ke Kotaku

Karena Mr. Banker dimutasi ke Malang, otomatis aku jadi sering pulang ke Malang, dunk. Walo awal tahun barusan udah sempet pulang, minggu kemarin aku pulang lagi. Yang aku tuju pastinya tempat-tempat kuliner yang belum sempat aku datengin waktu pulang di awal Januari. Minta ijin buat pulang cepet (potong gaji pastinya), aku memilih penerbangan ke Malang. Landing di bandara Abdul Rahman Saleh, lumayan lama juga nungguin Mr. Banker. Setengah jam lebih. Aku jadi penumpang terakhir yang tertinggal di bandara. Emang kenapa musti lama gitu? Mr. Banker lagi sibuk bangetkah di kantor ampe telat ngejemput? Engga juga siy, tapi mobilnya lagi masuk bengkel. Hihihi...

Spot kuliner pertama yang kita tuju adalah Pangsit Mie Bromo Pojok. Duh, udah lama banget engga kesini. Terakhir kesini, ada kali, 3 tahun yang lalu. Waktu itu aku yang lagi ada kerjaan di deket situ janjian maksi bareng ama Mr. Banker. Udah kangen banget ama pangsit mie-nya! Oya, walopun namanya mengandung kata "Bromo", lokasinya bukan di Jalan Bromo ya, tapi di Jalan Pattimura 53. Kali ini, aku memesan Pangsit Mie Spesial (Rp 15.500) dan es campur artistik (Rp 9500). Begini penampakannya...

yummy...

Selesai makan, Mr. Banker nganterin aku ke hotel Best Western, trus dia langsung berangkat ke acara pengajian kantornya. Jadilah aku ditinggal sendirian di hotel -_- Anyway, kenapa kita ke hotel? Adalah karena di kantor Mr. Banker, staf yang mutasi akan mendapat jatah kamar hotel selama 10 hari sembari menunggu kesiapan rumah dinas untuk ditempati. Ya wis, aku foto-foto kamar aja, lah, ya.

tampilannya standar lah...

tipinya gede

Kamar mandinya juga standar aja, siy. Pake shower gitu. Aku lupa motoin kamar mandinya. Yang aku poto cuma toiletries-nya. Abisnya lucu, kemasannya warna-warni gitu.

ada 1 bath soap yang lupa kepoto, kemasannya abu-abu

Acara pengajiannya Mr. Banker ternyata sampe malem banget. Jadilah malam itu kita engga kemana-mana lagi. Keesokan harinya, kami sarapan dulu sebelum sowan ke rumah ortuku. Pilihanku nasi kuning en omelet.  Plus satu menu yang engga pernah aku lewatkan saat lagi sarapan di hotel, yaitu croissant. Croissant disini kurang enak, tapi tetep aja besoknya aku comot lagi. Hehehe...

nasi kuning di hari pertama

croissant en omelet

Sebelum ke rumah ortu, kami mampir dulu ke Citra Kendedes Cake and Bakery buat beli roti en puding kesukaan 2 ponakanku. Di rumah, sempet poto-poto juga ama mereka :D

bersama Laalaa en Akmal :-*

Pulang dari rumah ortu, lanjut kulineran. Kali ini tujuan kami adalah warung Rujak Celaket (Mba Niniek), yang mana rujak cingurnya favorit aku banget. Nama "Celaket" didapat karena dulu berlokasi di Jalan Celaket, walo setelah itu sempat pindah ke Jalan Bunga Widara sebelum akhirnya sekarang bertempat di  Jalan Terusan Setaman 3. Selain rujak cingur (Rp 14.000), aku juga memesan es kolak (Rp 4.000). Isi kolaknya sumsum, pisang, dan agar-agar. Tapi kali ini aku request isi pisang aja.

kalo krupuknya...200an saja :D

Sorenya kami nonton di Sarinah Cineplex. Disini ada yang namanya Executive Class, yaitu semacam "Velvet Class"-nya Blitz Megaplex. Itu loh, yang bisa nonton sambil tidur-tiduran. Bedanya, kalo di Blitz pake sofa bed plus bantal en selimut, disini kursi doang tapi bisa dipake selonjoran. Karena fasilitasnya juga beda, ya harganya jelas beda. Disini cuma separo harga tiket di Velvet Class. Alias 50ribu saja per orang untuk weekend (40ribu untuk weekday). Yah lumayan lah, ada sensasi baru saat menonton film, murmer pulak. Oya, jumlah seat-nya juga terbatas, hanya 40 seat per studio. Tapi don't worry, jadwal dan pilihan filmnya tetap bervariasi kok ;)

penampakan tiket en seat di Executive Class
 
Tentang film The Wolf of Wall Street, kami excited banget buat nonton ini. Dengan alasan yang berbeda. Kalo Mr. Banker, karena film ini sedikit berbau saham. Kalo aku, karena Leonardo Dicaprio :p Film karya Martin Scorsese yang diangkat dari kisah nyata ini berkisah tentang seorang broker saham ulung yang kehidupannya engga jauh dari uang, kokain, dan perempuan. Di awal film, ditunjukkan bahwa dia mengisap kokainnya dengan menggunakan lembaran uang USD 10 yang langsung dibuang begitu saja ke tong sampah selesai dipakai. Di dalam tong sampahnya, sudah ada berpuluh-puluh lembaran uang yang sama. Saat menikah, ia menghadiahi istrinya sebuah kapal pesiar. Eh, tapi walo segitu kayanya, sepertinya hampa kalo jadi istrinya, secara cuma "bertahan" 11 detik *ini ngebahas apa >.<*

gambar dari sini


Durasi film ini lama banget, 165 menit. Tapi aku engga bosen tuh, nontonnya. Walo aku engga berani menjamin kalo orang lain bakal engga bosen juga saat menonton film ini. Hehehe... Maklum, seleraku dalam memilih film kadang agak ajaib. Percaya ato engga, aku ketiduran waktu nonton Fast and Furious 6. Beberapa tahun lalu, aku juga ketiduran waktu nonton Transformers en Terminator Salvation :p

Yak, lanjut ke acara kencan seharian kami :D Malamnya, kami memilih untuk dinner di hotel. Ceritanya disini ada Dinaya Cafe yang terletak di rooftop, jadi penasaran aja buat nyobain. Waktu mau reservasi meja, kami diminta pesen menunya dulu via telpon. Ntar dikabarin oleh staf hotel kalo meja kami udah siap. Lah, kenapa engga langsung nunggu aja disana? Adalah karena ternyata niy cafe baru dijadwalkan untuk opening bulan depan, jadi sebenarnya belum beroperasi. Hihihi... Maklum, hotel ini pun masih terbilang baru di Malang, karena baru buka pada pertengahan tahun kemarin.

Mungkin karena para staf hotel berupaya memberikan pelayanan yang memuaskan bagi tamu, mereka tetap mengiyakan saat kami memesan meja di rooftop. Walo jadinya disana cuma ada kami berdua en 1 waiter yang berdiri di pojok ruangan. Untuk menunya, aku memesan Beef Steak Dancing Prawn (98K++) dan Banana Smoothies (40K++). Sedangkan Mr. Banker memesan Sop Buntut (58K++) dan Hot Chocolate (30K++).

poto-poto di Dinaya Rooftop Cafe

Minggu pagi, waktu aku lagi siap-siap berangkat, Mr. Banker iseng nyopot pajangan topeng yang yang tergantung di dinding kamar hotel. Jadilah kami iseng poto-poto pake kedua topeng itu :D

Semacam selfie tapi agak malu-malu, gitu :D

Hmm, masih kurang deh, poto-potonya. Poto lagi, ah... Kali ini copot topeng ;)

lope-lope di udara

Gara-gara sibuk berkutat ama Tab buat ngegabungin poto-poto di atas, Mr. Banker sempet bete ama aku. Secara dia lagi nyetir tapi aku bukannya ngajakin ngobrol, malah autis sendiri gitu, hihihi... Duh, bener-bener kebiasaan buruk >.< Ceritanya hari itu kami menyempatkan untuk berkunjung ke rumah ortu Mr. Banker di Sidoarjo sebelum malamnya aku balik ke Jakarta.

Kami nyampe rumah mertua jam 12an. Dimasakin rawon sama ibu mertua. Asekkk... Malemnya, Mr. Banker nganterin aku ke Juanda. Aku jadi inget, beberapa tahun lalu, aku (diantar anak buah Mr. Banker en istrinya) mengantarnya ke Juanda. Waktu itu dia mau berangkat ke Makassar, aku sendiri masih ngantor di Malang. Sekarang kebalikannya. Jadi berasa aneh aja, gitu.

Oya, kali ini aku pengen nyobain terbang dengan Batik Air. Untuk rute Surabaya-Jakarta, jadwalnya cuma sekali, yaitu pada jam 21.10. Lumayan malem, siy. Dengan memilih terbang jam segini, aku bakal baru nyampe kontrakan tengah malam. Tapi engga apa-apa lah, demi memuaskan rasa ingin tahu.

Sejak mendengar rencana peluncuran Batik Air bulan Mei 2013 kemarin, aku memang udah penasaran sama maskapai satu ini. Apalagi kabarnya bakalan ada fasilitas wifi di dalam pesawat. Sayangnya sampai sekarang ternyata belum terealisasi karena terkendala izin dari Kemenkominfo.

Sekedar informasi, Batik Air merupakan maskapai full service yang merupakan anak buah dari Lion Air. Seperti halnya Garuda Indonesia yang merupakan full service airline pertama (dan sampai dengan beberapa waktu lalu masih satu-satunya di Indonesia), Batik Air juga menyediakan in flight entertainment, makanan kecil, dan tentunya kursi yang nyaman.

Bedanya, harga yang harus kita bayar jelas lebih murah dibandingkan Garuda Indonesia. Tapi ya harap maklum kalo fasilitas yang didapat tidak selengkap kalo kita memilih terbang dengan Garuda Indonesia. Contohnya untuk in flight entertainment. Kursi penumpang di kelas ekonomi tidak disediakan headset untuk menikmati tayangan dari LCD di depannya. Kita  masih harus membeli seharga 25ribu. Untungnya Ivna udah pernah naik Batik Air, jadi dia udah kasih tips untuk tidak lupa membawa headset Blackberry-ku. Tengkyu, Ivna...

Sayangnya lagi, entah kenapa, penumpang masih harus menunggu lama untuk bisa menikmati tayangan hiburan yang ada. Selain itu, walaupun saat landing-nya masih lumayan lama, tayangan udah mati duluan. Pengalamanku kemarin, film "Perahu Kertas" yang aku pilih sudah terhenti padahal pesawat baru landing 25 menit kemudian.

Mengusung kata "batik" pada namanya, unsur batik bisa kita lihat pada corak di bagian ekor pesawat serta seragam pramugari (atasan kebaya encim dengan bawahan batik).

gambar dari sini

Ada satu lagi corak batik yang aku temukan, yaitu pada kotak snack. Waktu di pesawat, aku sempat moto penampakannya siy. Sayangnya waktu mau transfer data dari Tab ke flashdisk, tiba-tiba Tab-nya error aja, gitu, jadi fotonya engga bisa kebuka. Snack yang dibagikan terdiri dari sebuah roti dan sebotol air mineral. Memang siy, disini belum ada penawaran minuman lain seperti teh/kopi, jus, ato susu kayak di Garuda. Tapi udah lumayan lah, apalagi air mineral yang kita dapat adalah Aqua yang rasanya udah jelas, engga kayak air mineral di sebuah maskapai bermerk nama maskapai itu sendiri yang rasanya aneh *engga berani sebut nama*

Jadwal penerbangannya juga bisa dibilang tepat waktu. Tepat waktu dalam arti sebenarnya loh, ya. Maklum, dalam penerbangan domestik, aku udah terlalu sering toleran dengan kenyataan bahwa jika penumpang baru dipanggil untuk boarding pada jam yang sebenarnya dijadwalkan untuk take off itu masih bisa disebut tepat waktu. Kali ini, pesawat bener-bener take off pada jam yang dijanjikan.

boarding jam 20.40, take off jam 21.10

Demikian sedikit cerita tentang pulang ke Malang kemarin plus sharing pengalamanku dengan Batik Air. Kalo ada yang masih penasaran, mending langsung nyobain naik pesawatnya aja ;)

10 comments:

  1. Waktu pulang awal Januari, udah kesana mba, hehe

    ReplyDelete
  2. wah asyik ya jln2 ke malang.. aku blm pernah kesana.. jd pengen ah, smoga secepatnya bisa kesana.. :D
    aku suka bgt deh liat foto pasangan unyu2 ituh.. hihihi

    ReplyDelete
  3. Wah, padahal yang aku bahas di atas cuma dikit banget ttg malang ternyata udah bikin pengen ya? Yuk, yuk, mba Cova, maen ke Malang :D
    Hihihi, kita pasangan unyu ya? Makasiy :-*

    ReplyDelete
  4. Wiiiiiii seneng, akhirnya bs sering2 pulang k malang yo mbak,
    Klo aq kayaknya jauh dr mungkin buat suami dimutasi ke malang hiks

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah... Kalo pulang ke malang, bisa sekalian dapet sowan ke ortu juga ;) Wah, kenapa jauh dari mungkin?

    ReplyDelete
  6. Suaminya pindah ke Malang ya mbak??
    Senengnyaa.. tapi mbak isti gak ke Makassar lagi dunk... padahal belum sempat ketemu kitaa..heeheeheee

    ReplyDelete
  7. Iya, Mba Farihah... Maaf ya, kemaren2 belum sempat ketemu. Tapi mudah-mudahan suatu saat kita tetep bisa ketemuan, ya, mba... Siapa tau aku ada tugas kesana, walo cuma beberapa hari, gitu :p

    ReplyDelete
  8. wah, malang tu kota favorit saya sejak SMA mbak... tapi baru dapet kesempatan satu kali kesana... :)
    Btw, itu kolaknya pake sumsum apa ya mbak?

    ReplyDelete
  9. Wah, kok baru 1 kali, Mas Pungky? Kuranggg! Kudu kesana lagiii! :D
    Yang aku pesen cuma kolak pisang, tapi benernya ada isian sumsum juga. Bukan sumsum tulang, tapi sejenis olahan tepung beras gitu, Mas ;)

    ReplyDelete