Thursday, 10 April 2014

Kisah Penolakan Tiga Perempuan Cantik yang Pengen Nyoblos

gambar dari sini

Kemarin tanggal 9 April, di kontrakan udah heboh aja dari pagi. Kami bertiga selaku penghuni kontrakan terpojok pada ngegalau, enaknya ikutan nyoblos apa engga. Sebagai warganegara yang baik, kami pengennya ikut menggunakan hak pilih kami. Apalagi didukung dengan banyaknya sponsor yang mewarnai pelaksanaan Pemilu kali ini, makin mengobarkan semangat kami untuk turut memberikan suara. Yaitu Starbucks, Baskin and Robbins, Giant, Matahari, de el el, jelas makin menguatkan langkah kita untuk menuju TPS. *jadi yang bener alasannya apa siy?*

Abis mandi pagi, dengan semangat menggebu-gebu kami menuju TPS (Tempat Pemungutan Suara, bukan Tempat Pembuangan Sampah, ya) terdekat yang adalah di halaman rumah kami. Tentang penggunaan halaman ini, dari semalam udah bikin heboh juga siy. Ceritanya aku flashback sebentar ke malam sebelumnya. Masuk gerbang rumah, kami langsung bengong aja demi ngeliat tenda biru udah berdiri di halaman. Bukan masalah tendanya siy, bukan pula karena kami bertanya-tanya, pernikahan siapa ala lagu jadulnya Desy Ratnasari. Tapi karena kami ngeliat di halaman bertenda biru udah engga ada mobil-mobil milik para tetangga. Yang ngejogrok disitu cuma satu, yaitu Si Putih alias mobilnya Ivna doang. Waduh, jadi engga enak ati sama beberapa panitia yang berjaga disitu. Bisa jadi mereka udah ngegerundel dari sore "Ini mobil siapa siy, engga disingkirin dari tadi, kita kan mau ngediriin tenda buat Pemilu besok".


Emm, sebelum aku terusin ceritanya, mungkin ada yang bingung, kenapa halaman rumah kami bisa diisi banyak mobil. Penjelasannya begini. Kami berempat (udah plus Nizam) ngontrak di salah satu rumah di sebuah kompleks kecil yang dulu adalah bekas sekolah. Anggep saja cluster, lah. Mobil-mobil yang ada engga selalu bisa diparkir pas depan rumah, jadinya ngumpul jadi satu di halaman milik bersama.

Pura-pura bego, kami ngeluyur aja ke arah rumah. Pikir kami, mandi-mandi dulu deh, leyeh-leyeh dulu bentar, nonton tipi dulu, kalo perlu bobo-bobo dulu trus abis itu markir mobil di luar. Baru aja aku ngakak-ngakak bentar ama Nizam sambil nonton Larva di MNC Kids, ada suara gedoran di pintu depan. Secara aku lagi engga pake jilbab trus Ivna lagi mandi, jelas Ratna yang terpaksa kudu mengorbankan diri untuk ketemu si penggedor.

Engga lama dia balik ke kamar en mengabarkan berita kalo orang yang udah mengusik ketentraman kami tadi adalah Pak RT. Beliau meminta kami segera mengeluarkan Si Putih dari halaman. Waduh, sampe mendatangkan Pak RT langsung niy. Kami memang keterlaluan :p Btw, Pak RT-ku ini tampilannya kayak preman loh. Bertato gitu. Dulu waktu pertama kenalan (halah), kami sempat ragu-ragu, ini Pak RT ato centengnya. Hihihi...

Singkat cerita, Ratna pun mengeluarkan Si Putih. Kasian, malam ini Si Putih terpaksa  kudu nongkrong di pinggir jalan.

Balik ke cerita di Hari-H. Mendatangi panitia yang bertugas di TPS, kami menanyakan bagaimana caranya agar kami yang punya KTP luar kota ini bisa ikut menyumbangkan suara kami *jelas bukan untuk ikut lomba karaoke antar kampung ya*. Jawaban yang kami dapat adalah kami harus membawa form A5 dari kelurahan setempat. Toenk! Padahal info yang kami dapat sebelumnya, pemilih dari luar kota cukup datang ke TPS terdekat dengan membawa KTP. Nyoblosnya siang siy, nunggu sisa surat suara, tapi baiknya pagi udah daftar. Jadi, kenapa kami ditolak ya?

Eh, apa mungkin panitia yang bertugas di TPS dekat rumah kami ini belum tahu peraturan terkait pemilih luar kota, ya? Jadi, mari kita coba ke TPS-TPS lainnya. Eh, tapi kita sarapan dulu aja kali, ya. Abis sarapan, baru deh kami bertamu ke 2 TPS lain yang kami lewati sepanjang perjalanan balik ke rumah. Sedihnya, jawaban yang kami terima adalah sama. Sungguh pahit. Hak pilih kami direnggut begitu saja. Tapi ya sudahlah. Masa iya kami pake acara demo di TPS? Ehmm, ide ini sempat terpikirkan siy, paling engga kami bakal masuk berita, gitu. Judulnya "Sudah Bawa KTP, Tiga Perempuan Cantik Berdemo di TPS karena Dilarang Menggunakan Hak Suaranya".

Kemudian ada suara nge-bas yang ngomong :
"Momen kecewa kali ini dipersembahkan oleh... Pemilu 2014"

Melangkahkan kaki kembali ke rumah, Ratna mendadak kreatif. Dia nyanyi-nyanyi theme song AFI yang beberapa liriknya udah diganti. Karena udah lupa kemarin modifikasinya kayak gimana, kita karang-karang lagi aja deh.

Bukan mudah, meniti langkah ke TPS
Bukan mudah, memakai hak pilih kita sendiri
Apapun jua bisa terbukti
Andai KTP tidak ditolak

Menuju Starbucks kopi susu gratis
Jadinya hampa ga dapet tinta
Menuju Giant diskonan all item
Jadinya galau ga boleh nyoblos
Pasti kecewa di TPS tetangga


Oke, liriknya kacau abis. Biarin lah, ya, bukan pengarang lagu ini.

Terkait aturan "cuma membawa KTP bisa nyoblos" ini, aku masih penasaran siy. Beberapa sumber memang menyebutkan kalo pemilih luar kota tetap bisa nyoblos di TPS terdekat, cukup dengan nunjukin KTP. Eh, tapi setelah aku cari-cari di peraturannya, yang dibilang "cuma" itu kalo dia masuk ke dalam DPKTb (Daftar Pemilih Khusus Tambahan) yaitu Pemilih yang tidak terdaftar di DPT (Daftar Pemilih Tetap), DPTb (Daftar Pemilih Tambahan), dan DPK (Daftar Pemilih Khusus). Itu yang aku tangkep setelah baca Pasal 11 Peraturan KPU Nomor 26 Tahun 2013 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan KPU Nomor  5 Tahun 2014.

Pasal 11 Peraturan KPU No 5/2014

Kemudian di Pasal 35 huruf j, salah satu penjelasan yang diberikan oleh Ketua KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) kepada Pemilih yaitu "Pemilih yang terdaftar dalam DPKTb dalam memberikan suara menggunakan KTP atau Identitas Lain atau Paspor yang dilakukan 1 (satu) jam sebelum waktu Pemungutan Suara berakhir, dan apabila Surat Suara di TPS telah habis, Pemilih yang bersangkutan diarahkan untuk memberikan suara di TPS terdekat." Kalo mau baca peraturan lengkapnya, bisa berkunjung ke www.kpu.go.id, ya...

IMHO, kalo misalnya nama kita udah ada di DPT di daerah asal, kalo mau nyoblos di luar kota ya emang kudu pake A5. A5 disini bukan kertas A4 dibagi 2, ya. A5 yang dimaksud disini adalah model A5-KPU yang merupakan surat keterangan pindah memilih. Untuk ngedapetin ini, Pemilih wajib melapor kepada PPS (Panitia Pemungutan Suara) asal. Yang artinya kita emang tetep kudu pulkam beberapa waktu sebelum pelaksanaan Pemilu biar bisa pake hak pilih kita. Kalo udah dapet A5, baru deh, nama kita akan dimasukkan ke DPTb.

Tetep aja siy, ada yang bilang : "tapi harusnya emang bisa loh, pake KTP doang". Emm, engga tau deh.  Terkadang kalimat-kalimat dalam peraturan memang bisa menimbulkan persepsi yang berbeda bagi para pembacanya. Sebagai orang awam, bila ada pembaca tulisan geje di atas yang bisa memberikan pencerahan, saya akan sangat berterima kasih :)

Emm, kalo ruwet-ruwet gini, aku jadi berharap ada yang namanya e-TPS. Terinspirasi dari e-filing, sebuah kemudahan dalam pelaporan SPT Tahunan yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Pastinya mudah, cepat, aman, bisa dilakukan dimana saja, plus go green. Ato paling engga ada Dropbox Surat Suara, deh. Lagi-lagi niru kebijakannya Direktorat Jenderal Pajak sebelum gembar-gembor e-filing. Jadi, Pemilih bisa memberikan suaranya di tempat-tempat keramaian seperti di mall atau perkantoran. Kayanya asyik tuh #ngarep

Akhir cerita, siang itu, demi mengobati kekecewaan, kami pun memutuskan untuk nge-mall saja, meski tanpa bekas celupan tinta di kelingking yang bisa kami banggakan mendekatkan kami pada gratisan ato diskonan di mall #akurapopo :'( Emm, dengan alasan agar tidak merusak esensi dari kekecewaan yang ada, cerita tentang nge-mall ditulis di postingan tersendiri ya...

5 comments:

  1. katanya..kalau cuma pakai KTP aja bisa disalahunakan mbk,,saya juga g nyoblos *akurapopo*,ya itu kan ikut suami pindah2 kota jadi yaaaa........kecewa2 gimana gitu hehe

    ReplyDelete
  2. Hmm, berarti bener ya Mak, engga boleh kalo cuma pake KTP doang? Kalo gini, emang bakal banyak yang golput ya, hehe

    ReplyDelete
  3. saya udah dapat hak suaraa di Dompu... Enggak tau juga tapi mbak gimana prosesnya. Ibu kos yang urus. pastinya pas pertama pindah sini, udah disuruh nyerahkan copy KTP. trus pas musim pemilu, tau-tau udah terdaftar aja. Asik dehh gak perlu pulang kampung.. *walopun kayaknya di rumah asal juga udah masuk DPT. tapi gak mungkin juga yakk bakal ada di 2 tempat dalam satu waktu. Hehe

    ReplyDelete
  4. Aku disini pk ktp depok tp kartu pemilih masi di bdg. Tapi bisa sih, mgkn krn ktp udah sini yah. Ah yasudahlah rapopo, soalnya aku juga milih liat kertas bingung milih siapa

    ReplyDelete
  5. @Arma : Wawww... ibu kosnya baek banget, mpe mau ngurusin yak... Nah, itu dia, kalopun di DPT ada nama kita, engga mungkin juga kita tetep bisa nyoblos, kan, jadi kenapa musti ngurus pindah, gitu -_-"
    @Mia : Ooo, berarti Mia juga bisa ya? Hahaha, walo bisa milih tetep bingung yak, mana engga ada yang kenal pulak :p

    ReplyDelete