Friday, 2 October 2015

Solusi Transportasi Jakarta : Go-Jek, Uber, dan Grab

Saya bukan tipe orang yang pengen hidup di Jakarta sampai saya tua, seperti yang dibilang oleh Seno Gumira Ajidarma.
Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Tapi membaca beberapa paragraf di bab awal novel terbaru dari Ika Natassa yang berjudul Critical Eleven memberi saya pandangan lain yang lebih menyemangati tentang hidup di Jakarta.

Ale (tokoh cowo di buku ini) bukan pembenci Jakarta. Suka malahan. Alasannya...
"Karena di Jakarta, semua orang berada in the state of trying. Trying to get home, trying to get to work, trying to make money, trying to find a better sale, trying to stay, trying to leave, trying to  work things out. Karena itu, buatku, Jakarta itu a labyrinth of discontent. Dan semua orang, termasuk aku dan kamu, setiap hari berusaha untuk keluar dari labirin itu. The funny thing is, ketika kita hampir berhasil menemukan pintu keluar labirin ini tapi malah ketemu hambatan lagi, pulling us back into the labyrinth, kita justru senang karena nggak perlu tiba di titik nyaman. It's the hustle and bustle of this city that we live for. Comfort zone is boring, right?"

Tuesday, 11 August 2015

Sekeping Cerita Agustus

Kalo liat judul postingan kali ini, semacam ada hawa-hawa romantis melankolis, yak, padahal siy isinya biasa aja. Engga romantis melankolis. En pastinya engga penting juga. Muahaha, kalo yang terakhir mah emang udah biasa yak :p

Baru aja bulan kemarin saya nulis cerita tentang perpisahan ama temen kantor. Eh lhadalah, beberapa waktu kemudian, tepatnya tanggal 10 Juli keluar pengumuman mutasi lagi di kantor. Waktu itu pengumuman keluar di web kepegawaian, saya, Ibu Boss, dan temen-temen satu bidang langsung heboh melototin PC. Ivna yang udah mau berangkat mudik ampe mengerem langkahnya. Niat hati mau sekrol ke bawah dengan khusyuk buat ngeliat pelan-pelan siapa aja yang terkena dampak mutasi. Apa mau dikata, karena angka pegawai yang mutasi nyaris mencapai angka 1000, terpaksa saya ambil jalur cepat. Ctrl-F. Demi Ivna yang udah mau capcus, saya nyari namanya dia dulu. Ketemu! Trus Ratna. Ketemu juga! Pas nyari nama saya, kok engga ada ya... #bingung

Tuesday, 7 July 2015

Ketika Harus Berpisah

Ada yang namanya musim duren, musim hujan, ato musim poto jadul dijadiin meme. Tapi yang sedang melanda kantorku sebulan terakhir ini adalah musim mutasi. Saat dimana aroma sedih dan bahagia bercampur di udara. Ada yang senang karena pindah ke kampung halaman. Ada yang sedih karena berpisah dengan rekan sekerjanya yang kompak. Ada yang senang campur sedih karena promosi jabatan tapi ke suatu daerah jauh.

Saya masih ingat ketika rekan 1 seksi saya, sebut saja Mas Anto membaca pengumuman promosi dimana namanya termasuk yang tercantum dalam daftar tersebut. Mestinya dia seneng, namanya juga promosi. Tapi melihat raut wajahnya yang langsung berubah dan pastinya bukan berubah jadi ceria, sepertinya ada kesedihan yang turut serta. Adalah karena untuk selanjutnya dia kudu mengabdi di sebuah daerah di wilayah timur Indonesia, dan untuk beberapa alasan istri dan anaknya tidak diajak ikut serta untuk tinggal disana.

Friday, 3 July 2015

Tuker-Tuker Uang Baru

"Isti, ada rencana nukerin duit di Monas, engga?" tanya atasan saya.
"Saya mah engga perlu, Pak, kan ntar suami yang bawain duit barunya," jawab saya.
"Sippp... Saya memang mau mastiin itu. Berarti saya nitip tukerin ya, besok. Bareng Andri tuh, katanya mau tuker juga."
"Siap, Pak!"
Obrolan di atas berlangsung kemarin.

Kebetulan tadi ada salah seorang temen SMP yang mengirim gambar ini di grup Telegram.

langsung ngikik baca ini

Salah satu tradisi Lebaran di Indonesiaadalah bagi-bagi uang baru. Nah, Alhamdulillah, beberapa tahun terakhir ini, setiap menjelang Lebaran, di kawasan Monumen Nasional, Bank Indonesia (BI) membuka layanan penukaran uang baru untuk masyarakat. Tahun ini, layanan tersebut dimulai tanggal 17 Juni sampai 15 Juli 2015, dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang. Ada 14 bank yang digandeng BI dalam program penukaran uang tersebut (sumber dari sini). Jumlah maksimal yang bisa ditukarkan per orangnya masing-masing terdiri dari 1 bendel 2ribuan, 1 bendel 5ribuan, 1 bendel 10ribuan, dan 1 bendel 20ribuan. Jadi total per orang cuma bisa nuker 3,7 juta. Kalo mau lebih, ya balik antri lagi.

Friday, 26 June 2015

Bertemu Setiap Hari

Assalamu'alaikum...

Ngeliat judul ini, kesannya saya lagi berada dalam aura keberkahan ramadhan ya... *wink*

Bermula dari obrolan saat makan siang bersama seorang teman kantor beberapa hari yang lalu. Ceritanya waktu itu saya pas engga puasa. Jadilah saya nyari temen buat makan siang bareng. Akhirnya setelah melalui beberapa tahapan seleksi yang ketat, saya berhasil mendapatkan temen maksi, sebut saja namanya Naomi. Yang jelas bukan nama sebenarnya.

Sebelum saya bercerita lebih detil, perlu saya informasikan bahwa tahapan seleksi disini maksudnya:
Tahap 1 : sedang engga puasa juga
Tahap 2 : engga bawa bekal
Tahap 3 : mau diajak maksi bareng saya.
Gitu doang siy :p

Sunday, 8 March 2015

Tubuh pun Berbahasa

Judul postingan ini mengingatkan saya akan lagunya Dewi Lestari yang "Firasat" : Alam pun berbahasa... Isi tulisan kali ini jelass! Jelass jauh banget ama lagunya Mba Dee! Engga puitis blas! Karena dibikinnya bukan pada saat saya duduk cantik menghirup udara segar, tapi sesaat setelah saya kecopetan.

Selama 3,5 tahun hidup di Jakarta, baru sore ini tadi saya kecopetan. Hmm, saya engga tau apakah ini bisa disebut prestasi. Seperti penduduk Jakarta kebanyakan, pastinya saya pernah ngerasain desek-desekan di busway en Kopaja. Alhamdulillah engga pernah kecopetan. Lha tadi sore, pas saya lagi jalan santai di mall sama Mama, eh, kok ketiban apes.

Emang siy, mall kali ini bukan mall yang biasa saya datangi *ya elah, emang biasanya kemana*. Judulnya Blok M Square. Kenapa bisa tiba-tiba jauh-jauh kesitu? Ceritanya tadi abis silaturahmi ke rumah sodara di Cinere. Pulangnya, Bude en sepupu yang naik taksi bareng minta turun di Terminal Blok M buat lanjut naik shuttle ke Tangerang. Pikir-pikir, udah seminggu Mama di Jakarta tapi belum nge-mall sama sekali. Jadi kenapa saya engga sekalian turun situ aja. Jadinya ya wis, kita berhenti di depan terminal.

Monday, 2 February 2015

Random Post Pake Banget

Kemarin Jumat, temen kantor koar-koar, ngasih tau ada short course ke LN. Pilihannya Austria, Turki, Korsel, Malaysia, dan Hungaria. Topiknya terkait international issues yang mana saya juga engga paham-paham banget *kalo boleh jujur, sebenarnya malah engga paham blas siy >.<*. Salah satu syarat yang harus dilampirkan saat mendaftar adalah menulis essay dalam bahasa Inggris (ya eyalah) sebanyak 500 kata terkait topik pelatihan yang akan dipilih, harapan yang ingin dicapai serta penerapan hasil dan kontribusi apa yang dapat diberikan ke instansi setelah mengikuti short course. Nantinya para pendaftar akan diseleksi. 

Kalo ditanya pengen ikut apa engga, ya jelas pengen. Tapi saya menyadari kemampuan saya yang sangat cethek ini. Domestic issues aja engga paham, apalagi international. Dari short essay yang dibuat kan juga bakal keliatan sejauh mana kemampuan saya. Engga mungkin kan, saya nulis harapan saya mengikuti ini adalah biar bisa jalan-jalan gratis ke luar negeri. 

Jadi intinya, saya langsung dadah bye bye ke penawaran short course tersebut.

Jumat sore, Ivna cerita kalo dia sempat ngobrol sama salah satu temen kantor kita, sebut saja Mba A. Mba A ini ternyata juga punya blog. Di dalamnya ada tulisan tentang Amsterdam yang pernah dia datangin dalam rangka short course beberapa waktu yang lalu. Yang bikin saya lebih hampa ngeliatnya, itu blog ditulis dalam bahasa Inggris. Full! Engga separo-paro apalagi cuma beberapa patah kata kayak blog yang saya punya ini *tertundukmenekurilantai*. Info tambahan yang bikin saya makin hampa, Mba A ini lagi galau menentukan pilihan mau ambil S2 di mana. Pilihannya Ostrali ato Inggris. Ceritanya dia dapet beasiswa di 2 universitas di negara yang berbeda.  Kenapa galau? Dia sendiri lebih pengen ke Inggris, apa daya suaminya dapet beasiswa juga, tapi di Ostrali. Oalah, kok pinter banget tho mba? Suaminya juga...

Friday, 23 January 2015

Welcoming New Baby

Di awal tahun ini, keluarga kami ketambahan satu anggota lagi! Yeayyyy!!!

congrats buat new parents ya :-*

Yup, Olik, adik saya yang kayanya masih kecil tapi ternyata udah gede itu sekarang udah jadi Ayah. Emm, bagi seorang kakak, yang namanya adik itu emang selamanya kecil yak :p

Kamis 8 Januari 2015 lalu, Rima ngelahirin baby-nya di Malang. Karena HPL-nya tanggal 15 Januari, saya kadung beli tiket untuk minggu depannya. Jadilah saya baru ketemu baby-nya pas udah keluar dari RS.

Trus kenapa maju lahirannya? Adalah karena hampir gawat janin. Rekam jantungnya engga aktif, hasilnya juga cenderung datar. Tambahan kelilit tali pusar, pulak. Terpaksa SC, deh. Karena mendadak, Olik juga engga bisa nemenin pas lahiran. Baru deh, waktu baby-nya lahir, dia langsung cari tiket pulang. Karena dari Singapore udah mahal banget (maklum, dadakan), dia bela-belain naik ferry ke Batam trus terbang dari sana.

Thursday, 15 January 2015

Kisah Saya dan Kumpulan Emak Blogger

KEB alias Kumpulan Emak-Emak Blogger, sebuah komunitas blogger perempuan Indonesia yang ribuan anggotanya tersebar di seluruh penjuru negeri, bahkan banyak juga yang tinggal di luar negeri. Sebuah komunitas yang digagas oleh Mira Sahid melalui sebuah Page di Facebook pada tanggal 18 Januari 2012 ini mempunyai tagline "Kami Ada untuk Berbagi". Para anggotanya memang secara rutin saling berbagi inspirasi, informasi, motivasi dan karya melalui blognya masing-masing.

Saya sendiri mengenal KEB secara tidak sengaja. Tidak ada yang memperkenalkan saya pada KEB. Semuanya bermula karena pada masa awal saya nge-blog, saya sering bertanya-tanya, dimana saya bisa menemukan orang-orang yang tepat untuk belajar tentang dunia blogging. Tentang bagaimana menulis yang baik, tentang membuat blog yang menarik, dan sebagainya. Saya pun iseng browsing. Dari situlah saya menemukan Facebook Group KEB. Disana para anggotanya berbagi tentang berbagai hal, terutama berbagi karya. Ada juga diskusi tentang blogging disana. Bahkan ada juga kelas menulis. Wow, menarik sekali!

Saya pun memberanikan diri untuk mengirim message pada Emak Admin alias Makmin. Memperkenalkan diri sekaligus meminta ijin untuk bisa bergabung di komunitas. Alhamdulillah, keinginan saya disambut dengan baik oleh Makmin. Setelah menjadi member, barulah saya tahu bahwa KEB juga sering berpartisipasi dalam berbagai event, seperti seminar, workshop, dan launching buku.