Monday, 2 February 2015

Random Post Pake Banget

Kemarin Jumat, temen kantor koar-koar, ngasih tau ada short course ke LN. Pilihannya Austria, Turki, Korsel, Malaysia, dan Hungaria. Topiknya terkait international issues yang mana saya juga engga paham-paham banget *kalo boleh jujur, sebenarnya malah engga paham blas siy >.<*. Salah satu syarat yang harus dilampirkan saat mendaftar adalah menulis essay dalam bahasa Inggris (ya eyalah) sebanyak 500 kata terkait topik pelatihan yang akan dipilih, harapan yang ingin dicapai serta penerapan hasil dan kontribusi apa yang dapat diberikan ke instansi setelah mengikuti short course. Nantinya para pendaftar akan diseleksi. 

Kalo ditanya pengen ikut apa engga, ya jelas pengen. Tapi saya menyadari kemampuan saya yang sangat cethek ini. Domestic issues aja engga paham, apalagi international. Dari short essay yang dibuat kan juga bakal keliatan sejauh mana kemampuan saya. Engga mungkin kan, saya nulis harapan saya mengikuti ini adalah biar bisa jalan-jalan gratis ke luar negeri. 

Jadi intinya, saya langsung dadah bye bye ke penawaran short course tersebut.

Jumat sore, Ivna cerita kalo dia sempat ngobrol sama salah satu temen kantor kita, sebut saja Mba A. Mba A ini ternyata juga punya blog. Di dalamnya ada tulisan tentang Amsterdam yang pernah dia datangin dalam rangka short course beberapa waktu yang lalu. Yang bikin saya lebih hampa ngeliatnya, itu blog ditulis dalam bahasa Inggris. Full! Engga separo-paro apalagi cuma beberapa patah kata kayak blog yang saya punya ini *tertundukmenekurilantai*. Info tambahan yang bikin saya makin hampa, Mba A ini lagi galau menentukan pilihan mau ambil S2 di mana. Pilihannya Ostrali ato Inggris. Ceritanya dia dapet beasiswa di 2 universitas di negara yang berbeda.  Kenapa galau? Dia sendiri lebih pengen ke Inggris, apa daya suaminya dapet beasiswa juga, tapi di Ostrali. Oalah, kok pinter banget tho mba? Suaminya juga...