Friday, 2 October 2015

Solusi Transportasi Jakarta : Go-Jek, Uber, dan Grab

Saya bukan tipe orang yang pengen hidup di Jakarta sampai saya tua, seperti yang dibilang oleh Seno Gumira Ajidarma.
Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Tapi membaca beberapa paragraf di bab awal novel terbaru dari Ika Natassa yang berjudul Critical Eleven memberi saya pandangan lain yang lebih menyemangati tentang hidup di Jakarta.

Ale (tokoh cowo di buku ini) bukan pembenci Jakarta. Suka malahan. Alasannya...
"Karena di Jakarta, semua orang berada in the state of trying. Trying to get home, trying to get to work, trying to make money, trying to find a better sale, trying to stay, trying to leave, trying to  work things out. Karena itu, buatku, Jakarta itu a labyrinth of discontent. Dan semua orang, termasuk aku dan kamu, setiap hari berusaha untuk keluar dari labirin itu. The funny thing is, ketika kita hampir berhasil menemukan pintu keluar labirin ini tapi malah ketemu hambatan lagi, pulling us back into the labyrinth, kita justru senang karena nggak perlu tiba di titik nyaman. It's the hustle and bustle of this city that we live for. Comfort zone is boring, right?"

Saya disini bukan bermaksud me-review tulisan Mba Ika. Saya adalah penggemar beratnya, jadi saya cuma bakal bilang, buku ini wajib dibaca! Juga buku-buku Mba Ika lainnya.

Lah, trus saya mau ngapain disini? Cuma mau sharing aja siy. Jaman awal saya tinggal di Jakarta, yang dimulai pada bulan September 2011, saya merasa hidup di Jakarta benar-benar menguras keuangan saya. Secara saya engga bisa naik motor ato bawa mobil, kemana-mana saya kudu naik kendaraan umum. Terutama kalo lagi engga ada temen yang bisa ditebengin. Hihihi... Dalam suasana hati yang sedang ngerasa rela berdesakan, saya naik busway ato kopaja ato angkot. Tapi ternyata lebih banyak situasi yang membuat saya males berdesakan atau sekedar antre di halte busway. Akhirnya saya lebih memilih naik taksi ato bajaj ato ojek. Pastinya, hal ini membuat pos pengeluaran transportasi saya hanya berbeda tipis dengan pos pengeluaran untuk makan sehari-hari.

Tapi beberapa bulan terakhir ini, terjadi perubahan drastis untuk pengeluaran transportasi saya. Dengan berbagai aplikasi pada smartphone yang ada sekarang, hidup di Jakarta terasa lebih murah dan menyenangkan. Aplikasi apalagi yang saya maksud disini kalo bukan Go-Jek, Uber, dan Grab Taxi. Kesemuanya menggunakan teknologi location-based yaitu mencarikan driver yang posisinya paling dekat dengan kita dan available tentunya. Setelah mendapatkan driver, kita dapat mengetahui nopol kendaraannya, nama driver beserta foto dan no HP-nya (yang bisa di-sms ato ditelpon).

1. Go-Jek

Layanan berbasis ojek (pastinya pake sepeda motor, bukan mobil apalagi sepeda onthel) yang engga cuma bisa anter jemput kita dari mana saja ke mana saja (dengan jarak maksimum 25 km), tapi juga bisa buat jadi kurir untuk pengiriman barang atau pesan antar makanan (semacam delivery service). Untuk Jakarta, wilayahnya meliputi Jabodetabek. Selain di Jakarta, Go-Jek juga ada di Bandung, Bali, dan Surabaya.

Sampai hari ini siy, tarif Go-Jek di Jakarta adalah flat sebesar Rp 15.000,- dengan jarak maksimum pemesanan untuk semua layanan adalah 25 km. Untuk pembelian makanan (Go-Food), biaya tadi pastinya di luar biaya take away yang dikenakan oleh restoran (jika ada). Saat ini malah ada tambahan fitur baru yaitu Go-Mart yaitu layanan belanja pesan antar yang memiliki 25.000 jenis barang dari lebih dari 20 pilihan toko di seluruh Jabodetabek.

Oya, bagi yang pertama kali men-download aplikasi ini, dapatkan credit gratis (bisa untuk membayar layanan Go-Jek senilai Rp 50.000,-. Caranya, download dulu aplikasi gratis ini di AppStore. Ketik aja Gojek, nanti akan muncul aplikasi berjudul GO-JEK di urutan teratas. Untuk selanjutnya, lakukan install dan registrasi. Selanjutnya, pilih menu My Wallet yang berbentuk dompet di ujung kanan atas layar. Di bagian paling bawah yang bertulisan Voucher Code/Referral Code.

Masukkan kode referral Gojek dari saya: 543244715 untuk mendapatkan credit Rp 50.000.

Pengen nambah Credit supaya bisa melakukan pembayaran Go-Jek secara cashless? Bisa dengan melakukan top up lewat rekening BCA. Bisa juga dengan share referral code yang kamu punya yang juga ada di menu “My Wallet” ke temen-temen. Yang baru pertama kali download aplikasi Go-Jek pastinya. Mereka bakal dapet credit Rp 50.000,-. Kamu sendiri juga bakal dapet Rp 50.000,- saat mereka melakukan booking Go-Jek untuk pertama kalinya! Go-Jek menyebut ini sebagai “spreading the Go-Jek love!”.


2. Uber


Dengan tagline Everyone’s Private Driver, pake Uber ini emang berasa punya sopir pribadi. Mobil yang kita pake ganti-ganti, pulak! Berasa tajir ajah!!! Berawal dari San Fransisco, California, Uber sudah merambah ke Indonesia. Dengan tarif normal yang menurut saya lebih murah dari ongkos taksi, jujur saya lebih memilih untuk memesan Uber daripada taksi biasa. Apalagi saya suka pusing dengan bau pengharum yang ada di taksi. 

Uber sendiri menyediakan 2 pilihan yaitu UberX dan UberBlack. Pastinya mobil yang masuk kategori UberBlack adalah mobil mewah sehingga tarifnya juga berbeda. Empat kali memanfaatkan layanan Uber, saya baru mencoba UberX. Benernya sekali waktu pengen coba UberBlack, sayang armadanya lagi kosong.

Untuk gambaran tarifnya (dalam hal ini UberX), tarif buka pintunya hanya sebesar Rp 3000. Bandingkan dengan taksi biasa yang sebesar Rp 7500. Tarif per km-nya juga murah, hanya berkisar Rp 2000/km. Selain itu, ada biaya lain yang dikenakan, tergantung lama perjalanan. Perjalanan terlama saya dengan Uber adalah 1,5 jam. Sehingga saya dikenakan biaya berjudul “Time” sebesar Rp 27.500.

Di awal tadi saya sempat menyebut tarif normal. Lah, memangnya ada tarif engga normal? Yup, untuk jam-jam padat kendaraan, ada surge pricing yang dikenakan. Pelanggan yang akan melakukan pemesanan mobil, langsung mendapat notifikasi apabila ada kenaikan tarif sementara ini. Kalo tetap mau pesen monggo, engga jadi pesen juga engga masalah.

Enaknya pake Uber ini, kita udah dikasih tau perkiraan biayanya, karena ada menu Fare Estimate. Berbeda dengan taksi biasa yang kita cuma bisa pasrah. Kalo udah kena macet, yang ada cuma berasa deg-degan cos kudu siap-siap merogoh kocek lebih dalam. 

Untuk bisa menikmati layanan Uber, pengguna harus memiliki kartu kredit. Karena Uber ini tidak menerima pembayaran secara tunai. Tagihan akan dikirim via email dan akan masuk ke tagihan kartu kredit. Kalo engga punya kartu kredit, pake punya ortu ato sodara juga bisa siy, dengan persetujuan si empunya tentunya. Data kartu kredit tersebut dimasukkan ke dalam menu “Payment”, dan wajib di-entry sebelum melakukan pemesanan untuk pertama kali. Bisa diubah kok, kalo suatu saat berencana menggunakan kartu kredit yang berbeda.

Setelah perjalanan berakhir, pengguna akan mendapatkan email berupa tagihan. Seperti ini:



billing Uber

Seperti halnya Go-Jek, pengguna aplikasi Uber juga bisa mendapatkan Credit sebesar Rp 75.000. Hanya saja, credit ini cuma bisa digunakan satu kali, waktu pertama kali memesan Uber.

Masukkan kode Uber saya: istitue untuk mendapatkan Credit Rp 75.000 (berlaku untuk 1 kali pemakaian).


3. Grab Taxi


Layanan untuk solusi transportasi satu ini berasal dari Malaysia. Indonesia sendiri adalah negara ke-6 setelah Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Pilihan yang tersedia di aplikasinya adalah Grab Taxi, Grab Bike, dan Grab Car.

Grab Taxi, sesuai dengan namanya, digunakan untuk mencari taksi terdekat dari lokasi kita berada. Driver taksi yang bergabung disini diantaranya berasal dari Express, Putra, Taxiku, dan White Horse. Perusahaan ini sering bikin program promo berupa potongan harga untuk penggunaan taksinya. Untuk kode promonya, bisa langsung dicari di timeline twitternya @GrabTaxiID.

Masukkan kode referral Grab Taxi saya: 742C26 untuk mendapatkan Credit Rp 30.000 (berlaku untuk 1 kali pemakaian).

Grab Bike, layanan ojek yang dimiliki Grab Taxi juga sering ngadain promo. Kode promonya bisa langsung dicek di aplikasi. Dia bakal muncul saat kita sudah memilih lokasi penjemputan serta destinasi dan tentunya sudah memilih Grab Bike untuk moda transportasi kita.
Yang terakhir, Grab Car. Yang ini sejenis dengan Uber. Bedanya, di awal pemesanan, kita sudah tahu berapa tarif yang harus kita bayarkan kepada si pengemudi. Pembayarannya pun tidak dengan menggunakan kartu kredit, melainkan secara cash.

Yak, sekian tulisan saya sore ini. Selamat mencoba ya...

6 comments:

  1. Blognya Keren nih... sedap dipandang

    sebutsajatius.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  2. Wah jadi pengen nyoba uber nih, muantappp kayanya dan seru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh banget dicoba... Memang seru dan lumayan ngirit jadinya, hehe...

      Delete